1. Syari'at 2. Thoriqot 3. Hakikat 4. Ma’rifat.
1. Syari'at :
Adalah hukum Islam yaitu Al-qur’an dan Al-Hadits, Ijma dan Qiyas yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih. Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan Atsar para shahabat Ijma’ dan Qiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat madzhab fiqih yang mu’tabar (Shohih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqoh dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah Subhanahu WaTa'ala, para Malaikat-Malaikat Allah, kitab-kitab Allah, para Nabi-Nabi Allah dan Rosul-Rosul Allah, Hari Qiamat dan Taqdir (.Qodlo+Qodar)
Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para 'Ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon yang selamat penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqomah berada dibawah panji Tauhidnya Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam dan KhulafairRosyidiin, Tabi'in, Tabi'attabi'in dan Imam Madzhab serta 'Ulama-'ulama Madzhabnya (Qoul) yang selanjutnya dikenal dengan AhlusSunnah wal-Jamaah.
Keyakinan dalam ilmu syari'at duduknya ditubuh, disebut ilmu yakin. Yaitu : Yakin benar sesuai apa kata Guru/Mursyid / Pembimbing dan atau pada apa yang tertulis di kitab-kitab termasuk pada Al-Quran dan Hadits, Ijma dan Qiyas jumhur para 'Ulama.
Orang-orang yang duduk di keyakinan ini disebut muslim karena hanya mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya saja dari apa yang tersurat atau tertulis baik yang ada dikitab termasuk Al-Qur'an dan As-Sunnah maupun dari apa yang disampaikan oleh Guru / Mursyid / Pembimbing.
2. Thoriqoth :
Adalah jalan / cara / metode implementasi syari'at. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syari'at Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Subhanahu wata'ala. Jadi orang yang berthoriqoh adalah orang yang melaksanakan hukum Syari'at, lebih jelasnya Syari'ah itu hukum dan Thoriqoh itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.
Thoriqoh ada 2 (dua) macam metode :
A. Thoriqoh ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tidak ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqoddam.
B. Thoriqoh Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syari'at Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syaikh / Mursyid / Muqoddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syaikh / Mursyid / Muqoddam dengan idzin bai’at khusus yang sanadznya sambung sampai pada Baginda Nabi Muhammad, Rosululloh Sholallohu 'alaihi wasallam. Thoriqoh Khas ini lebih dikenal dengan nama Thoriqoh Sufiyah-Tasawwuf / Thoriqoh al-Auliya’.
Thoriqoh Sufiyah yang mempunyai idzin dan sanadz langsung dan sampai pada Rosululloh itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul 'Ulama’ berjumlah 44 Thoriqoh, dikenal dengan Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlul Thoriqoh Al-Mu’tabarah Al-Nahdliyah.
Keyakinan dalam ilmu Tarekat/Thoriqoh duduknya dihati , disebut 'Ainul yakin. Yaitu : Yakin benar sesuai apa kata hati / sanubari.
Orang-orang yang duduk di keyakinan ini disebut Mu'min karena telah mampu berketetapan dengan membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan Hatinya jadi tidak tergantung dari apa yang di sampaikan oleh Guru / Musryid / Pembimbing ataupun dari apa yang tertulis di Kitab-kitab termasuk Al-Qur'an dan Hadits, Ijma dan Qiyas.
Jadilah Orang-orang MU’MIN karena akan banyak mendapat karunia dari Allah Subhanahu Wata'la sebagaimana firmanNya.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.
( Al-Ahzab 47 )
Hadist Qudsi, berkata Abu Hurairah ra. bahwa Rosulillah Sholallohu 'Alaihi wasallam bersabda : Allah berfirman :
Hamba-Ku yang Mukmin adalah lebih Kucintai daripada setengah para Malaikat-Ku.
[HR. Thobarony]
Dalam kitab Mizan Al-Qubro yang dikarang oleh Imam Asy-Sya’rony ada sebuah hadits yang menyatakan :
ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا
(ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)
Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat.
(Mizan Al-Qubro Al-Imam Sya'rony: 1 / 30 )
Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :
ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )
Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga.
[HR. Thobarony]
Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thoriqoh pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thoriqoh sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasallam yang Al-Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong).
Lalu bagaimana hukumnya golongan yang tidak percaya pada Hadits Nabi yang shohiih...???
Semua thoriqoh sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam.
Yaitu thoriqoh mujahadah dan Thoriqoh Mahabbah. Thoriqoh mujahadah adalah thoriqoh / mitode pendekatan kepada Allah Subhanahu WaTa'ala dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah Subhanahu WaTa'ala dengan sedekat dekatnya.
Sebagian besar thoriqoh yang ada adalah mujahadah.
Sedangkan thoriqoh mahabbah adalah thoriqoh yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama dalam perjalanannya menuju hadlirat Allah Subhanahu WaTa'la seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rohmat dan ni'mat Allah Subhanahu WaTa'ala, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlas tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala akhirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada yang Kholiq akan terobati. Yang terpenting dalam thoriqoh mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah Subhanahu WaTa'ala. Habibulloh adalah kedudukan Nabi kita Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasallam.
(Nabiyulloh Adam shafiyullah, Wanabiyulloh Ibrohim Kholilulloh, Wanabiyulloh Musa Kalimulloh, Wanabiyulloh Isa Ruhulloh sedangkan Wanabiyulloh Sayyidina Nabi Muhammad SAW Habibulloh).
Satu satunya thoriqoh yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thoriqoh At-Tijany.
Nama-nama thoriqoh yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para 'Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahlul Thoriqoh Al-Mu’tabarah Al-Nahdliyah dan dinyatakan Mu’tabar (benar – sanadznya sambung sampai pada Baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasalllam), diantara Lain-Lainnya :
1. Qodiriyah. 2. Syadziliyah. 3. Sammaniyah. 4. Tijaniyah. 5. Shidiqiyah. 6. Rifa'iyah. 7. Nasyqabandiyah. 8. Kholidiyah. 9. khalwatiyah. 10. Qodiriyah wan Nasyqabandiyah dan lain-lainnya.
3. Haqiqoth / hakikat
Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata'ala. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan bathin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakikat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya Allah selaku yang Kholiq Allah Subhanahu wata'ala. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan.
Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah Subhanahu WaTa'ala, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridloan Tuhannya Allah semata / karna Lillah. Jadi tujuan mereka adalah Allah Subhanahu WaTa'ala (berzuhud tidak hubbuddunya) bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.
Keyakinan dalam Ilmu Hakekat / Hakiqot duduknya di Nyawa, disebut Hakkul YAKIN. Yaitu : Yakin benar sesuai apa kata Nyawa.
Keyakinan pada Nyawa yang dikatakan sebenar-benarnya Guru / Mursyid MuRobbii adalah Nur Muhammad Rosulillah Sholallohu 'Alaihi Wasallam sebagai pemegang Kunci pintu surga / Miftahul Jannah dan keyakinan pada Nyawa ini berdasarkan Firman Allah Shubhanahu wata'ala dalam Al-Qur'an.
Allah mengilhamkan kepada Jiwa / Nyawa itu jalan Kefasikan dan KeTaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan Jiwa / Nyawa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
[ Asy-Syams 8-10 ]
4. Ma’rifath / ma'rifatulloh :
Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata'ala.
(salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Subhanahu wata'ala. ( Wushul ilalloh Subhanahu wata'ala). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah Subhanahu WaTa'ala, baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, mereka bukan hanya ingin Allah Subhanahu WaTa'ala dengan Ampunan dan keridloanNya, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Sang Kholiq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah Subhanahu WaTa'ala.
(syari'ath dan Thoriqoh) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung kepada pembimbing / Guru / Mursyid, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (ta’lim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thoriqoh. Sedangkan Haqiqoth/hakikat dan ma’rifath pada prinsipnya tidak bisa dipelajarisebagai mana Syari'ah dan Thoriqoh karena sudah menyangkut Dzauqiyah.
Haqiqoth/hakikat dan ma’rifath lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqomah) mempelajari dan menggali kandungan syari'ah dan mengamalkanya dengan ikhlas semata mata karena ingin mendapatkan ridlo dan ampunan serta cinta Allah Subhanahu WaTa'ala.
Keyakinan dalam Ilmu Ma'rifattulloh duduknya di Rahasia, disebut Kamalul Yakin atau Yakin yang sempurna. Yaitu : Yakin benar karena Allah semata ( Kontak Langsung )
Keyakinan pada tingkatan ini hanya dimiliki oleh orang yang bertaqwa dan telah dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata'ala atau biasa disebut sebagai kekasih Allah subhanahu wata'ala atau Auliya, keyakinannya berdasarkan atas penyaksian yang terjadi dalam perjalanan Spiritual yang di perjalankan oleh Allah Subhanahu wata'ala sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala dalam Al-Qur'an.
Aku tidak menghadirkan mereka ( Iblis dan anak cucunya ) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri,dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong..
( Al-Kahfi 51 )
Penyaksian yang terjadi termasuk bertemu dengan Allah swt sebagaimana yang di isyaratkan dalam Hadist, Rosulillah Sholallohu 'Alaihi wasallam berkata :
Seseorang diantara kamu akan bercakap-cakap dengan TuhanNya tanpa ada penterjemah dan dinding yang mendindinginya. ( HR. Bukhori )
Sesungguhnya ada sebagian ilmu yang diibaratkan permata yang terpendam,tidak dapat mengetahuinya kecuali Ulama Billah, Apabila mereka mengungkapkan ilmu tersebut maka tidak seorangpun yang membantahnya kecuali orang – orang yang tidak paham tentang Allah.
( Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi RA )
Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syari'ah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thoriqoh. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thoriqoh ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thoriqoh khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqoh/hakikat dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahui secara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifath.