*MENJEMPUT MALAM LAILATUL QADAR*
Oleh *KH Arifin Ilham*
_*SUBHANALLAH*, seorang mukmin yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya pasti sangat merindukan *Lailatul Qadar*_. Karena malam itu teramat istimewa, _*malam dengan kadar lebih baik dari 1.000 bulan*_, atau 83 tahun 3 bulan, _khoirun min alfi syahrin_; malam turunnya para Malaikat dengan dipimpin langsung Malaikat Jibril atas izin-Nya, _tanazzalul Malaaikatu warruuhu_; malam penuh kedamaian hingga terbit fajar, _salaamun hiya hatta mathla’il fajri._
Malam ini sungguh tidak ternafikan sebagai malam yang sangat terasa nikmat. Apalagi jika menikmatinya dengan beriktikaf di masjid. Tercecaplah puncak kedekatan diri dengan Allah, sehingga air mata pun tidak terbendung lagi. _Surah Al-Qodar [97] turun karena menunjukkan *keistimewaan malam yang terjadinya pada Asyrul Awaakhir, 10 akhir Ramadhan ini*_.
Adapun untuk mengenali malam indah ini, Rasul SAW bersabda, _*”Malam Lailatul Qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya (suram).*” (HR Muslim)._
*Berikut ini kiat untuk menjemputnya*.
*Pertama*, benar-benar bersemangat untuk meraihnya diawali dengan meluruskan niat semata ingin ridha Allah SWT. _”Barang siapa melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan didasari keimanan dan harapan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni._” (HR Bukhari Muslim).
*Kedua*, bermujahadah dalam ibadah, _Sungguh, Rasul tercinta pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, lebih bermujahadah melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya_. (HR Muslim). Seperti berpuasa dengan tanpa maksiat, membaca Alquran dengan pemahaman dan penghayatan dan menunaikan shalat Tarawih tanpa putus dan dengan tumaninah.
*Ketiga*, melaksanakan kewajiban Syariat Allah, seperti zakat maal bagi hartawan, jika wanita taatlah dengan berjlibab.
*Keempat* , _beriktikaf di masjid_. Abu Said menceritakan tentang iktikaf Rasulullah di masjid yang ketika itu berlantaikan tanah dan tergenang air. _“Aku melihat pada kening Rasulullah ada bekas lumpur pada pagi hari Ramadhan._” (HR Muslim).
*Kelima* , dengan _selalu terjaga dalam kekhusyukan ibadah, tidak banyak tidur dan ngobrol_. Justru memburai air mata yang mengalir tak terbendung karena rindu perjumpaan dengan-Nya, takut murka-Nya dan karena merasa banyak dosa.
*Keenam* , _berazam dan bersumpah untuk taubatan nashuha; tidak kembali maksiat dan tidak akan menzalimi dan menyakiti siapapun lagi._
*Ketujuh* , _wajib minta maaf kepada siapa pun termasuk kepada keluarga atau sahabat yang pernah ia sakiti._ Karena jika tidak, akan menjadi hijab (penghalang) bagi doa dan ibadahnya.
*Kedelapan* , tiada waktu berlalu sia-sia kecuali banyak _berzikir, istighfar, shalawat, wudhu terjaga dan kesenangan bersedekah_.
*Kesembilan* , _berdoalah sungguh sungguh, yakin penuh harap_.
_“Wahai Rasulullah,”_ tanya Aisyah, _“Bagaimana menurutmu andai aku mendapatkan Lailatul Qadar? Doa apa saja yang harus aku baca?”_ Beliau bersabda, _“Ucapkanlah, *Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, dan Engkau menyukai ampunan. Maka ampunilah aku,”* (HR Tirmidzi)._
*Allahu Akbar*, _akankah kita yang meraihnya?_ Kepastiannya hanya milik Allah. Tapi, teruslah meniti jalan ketaatan kepada-Nya. Karena boleh jadi kita adalah di antaranya. Jika setelah malam indah itu berlalu kita adalah yang semakin kuat akidahnya, semakin rajin dan menikmati ibadahnya, akhlak yang semakin mulia.
Dalam hal ihyaaus sunnah (menghidupkan amal sunnah) kita semakin bersemangat, kepada keluarga dan umat manusia selalu berkasih sayang, ketakwaan kita semakin tampak dan dirasakan oleh diri, keluarga dan sahabat kita, dan air mata kita mudah meleleh karenaliqoouhu, kerinduan berjumpa dengan-Nya. _*Jika ya, boleh jadi kita adalah yang telah berhasil meraihnya.*_
_*Allahumma ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami dari mulai akil baligh hingga waktu Engkau wafatkan kami, terimalah amal ibadah kami, tobat kami, berkahi sisa-sisa umur kami dalam aktivitas Syariat dan Sunnah Nabi-Mu, berilah pada kami keistimewaan Lailatul Qodar, dan wafatkan kami semua husnul khootimah. Aamiin*_. []
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI
7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI Dalam Kitab Qotrul Ghois Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang d...
-
NADHOMAN TAREKH NABI Muhammad SAW ; NABI URANG SAREREA *BismillaahirRohmaanirRohiim* 1 Nabi urang saréréa, Kangjeng Nabi anu mulya, ...
-
7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI Dalam Kitab Qotrul Ghois Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang d...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar