SALIK/MURID TAREKAT
Istilah salik/murid berasal dari isim fail kata arada, yang berarti seorang yang berkehendak atau menginginkan sesuatu.
Dalam tasawuf, para penempuh jalan ruhani adalah salik/murid, yakni orang yang menghendaki perjumpaan dengan Allah secara spiritual melalui ibadah, riyadhah, mujahadah, dan munajat, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ أَحَدًا
"Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya," (QS. al-Kahfi : 110).
Dalam tarekat, meski seseorang sudah berada dalam posisi mursyid, pada hakikatnya tetaplah ia seorang murid, artinya seorang penempuh ruhani yang menghendaki perjumpaan dengan Allah.
Karenanya, mursyid bersama-sama murid berusaha membersihkan diri dari berbagai penyakit hati dan sifat-sifat tercela agar bisa merasakan bagaimana persahabatan dengan-Nya, mencintai dan dicintai-Nya, meridhai dan diridhai-Nya.
Jika seorang mursyid saja masih berstatus murid, bagaimana dengan keadaan murid yang masih mencari jalan dan cara guna memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Allah?
Tentu ia harus menyadari jati dirinya serta berupaya lebih keras lagi demi mencapai tingkatan yang tertinggi, yakni makrifat kepada Allah.
Alfaqier G.E.Dip.Idarah Wustho Jatman Lampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar