Sabtu, 20 Juli 2019
Jumat, 14 Juni 2019
RESUME
PENGERTIAN RESUME DAN
LANGKAH MENULIS RESUME YANG BENAR
Pengertian Resume Dan Langkah Menulis Resume Yang
Benar
Kamu bingung bagaimana membedakan antara resume dengan
ikhtisar?, atau kamu bingung dengan langkah baik dan benar dalam membuah
resume?, selamat kamu hadir di tempat yang tepat. Kali ini kita akan mengulik
lebih detail mengenai pengertian resume.
Secara umum resume memiliki pengertian sebuah data dokumen
yang berisikan rangkuman. Rangkuman tersebut dapat berasal dari pengalaman,
keahlian atau dapat pula dari pendidikan seseorang.
Sebuah resume dibuat tak lebih dari dua halaman dan harus disusun
dengan teratur dan rapi dengan tujuan untuk menarik perhatian pembacanya.
Pengertian Resum Lengkap Dengan Langkah Menulisnya
Dalam membuat sebuah resume pada dasarnya tidaklah terlalu
sulit karena yang harus kamu lakukan adalah berpatokan pada tulisan aslinya.
Nah untuk memudahkan kamu dalam membuat sebuah resume yang baik dan benar,
berikut akan disajikan langkah-langkahnya.
Membaca Naskah Asli
Langkah pertama dalam membuat sebuah resume adalah dengan
terlebih dahulu memahami dari isi naskah asli sebuah karangan. Jadi kamu harus
membaca karangan aslinya hingga selesai dan sebaiknya kamu lakukan berulang
kali hingga kamu mengerti dan memahami apa yang hendak disampaikan oleh penulis
asli karangan tersebut.
Dalam membaca sebuah karangan atau tulisan, kamu juga harus
mencatat kata atau istilah-istilah yang sulit dipahami kemudian mencarikan
maknanya supaya dapat mempermudah dalam melakukan penulisan resume nantinya.
Hal itu juga akan sangat membantu kamu untuk dapat emngetahui gambaran umum
dari sudut pandang penulis.
Cara Menemukan Gagasan Utama
Langkah selanjutnya setelah kamu memahami isi dari karangan
yang hendak kamu buatkan resume, adalah dengan menemukan gagasan utama atau
pikiran utama dari tulisan tersebut. Catalah gagasan utamanya agar nantinya
kamu bisa membuat ringkasan yang sesuai.
Yang perlu kamu ingat, tak semua paragraf mengandung gagasan
pokok, untuk itu penting untuk kamu menemukan gagasan utama secara teratur agar
penulisan remume nantinya tidak melebar.
Langkah Menulis Resume
Setelah memperlajari pengertian resume, mengetahui gagasan
utama dari suatu karangan, tentunya saat ini kamu telah memiliki sebuah
gambaran umum mengenai resume. Mulailah menulis resume dengan menggunakan kata
dan kalimat yang kiranya mampu menggambarkan isi dari teks aslinya.
Ingat, kamu tidak boleh menambahkan pendapat kamu dalam
membuat resume, terlebih jika pendapat tersebut bertentangan dengan naskah
aslinya.
Membuat resume haruslah menggunakan bahasa Indonesia yang
mudah dicerna oleh smeua orang. Jika dalam naskah aslinya banyak menggunakan
istilah-istilah yang membingungkan, kamu dapat menulisnya dalam bahasa yang
lebih mudah dipahami dalam resume.
Kalimat dalam resume haruslah jelas dan to the point, tidak
boleh bertele-tele, karena resume harus dibuat dalam bentuk ringkasan yang
padat dan teratur yang mampu mewakili isi dari anskah aslinya.
Membaca Ulang Resume Yang Dibuat
Setelah kamu selesai mengerjakan sebuah resume, tentunya
kamu harus berulang kali membaca ulang resumenya untuk memeriksakan kembali
apakah ada kesalahan dalam penulisan. Ada beberapa poin utama yang benar-benar
harus kamu perhatikan, yaitu:
1. penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
2. penggunaan tanda baca yang sesuai’
3. penggunaan ejaan yang tepat
4. dan memeriksa kesesuaian antara resume dengan karangan
aslinya
itu dia penjelasan singkat mengenai pengertian resume dan
tata cara penulisan resume yang baik dan benar.
Perbedaan Ikhtisar dan Resume
Banyak orang yang sering kebingungan saat hendak membuat
resume, dan tak sedikit dari mereka malah menghasilkan sebuah ikhtisar saat
disuruh membuat resume.
Hal ini dikarena mereka tidak dapat membedakan langkah
penulisan resume dan ikhtisar. Ikhtisar dan resume memang memiliki pengertian
yang hampir sama, yaitu sama-sama merupakan ringkasan dari karangan sumber yang
panjang, seperti halnya pengertian teks iklan yang sangat erat sekali
hubungannya dengan resume ini.
Hanya saja ikhtisar tidak mempertahankan urutan gagasan
pokok yang membangun karangan seperti layaknya pda pembuatan resume. Dari segi
penggunaan kata dan penyusunan kalimat dalam pembuatan ikhtisar dilakukan
sesuai dengan pemahaman di penulis ikhtisar tersebut, sedangkan resume
menggunakan istilah dan kalimat yang jelas dan berurutan dengan karangan
aslinya.
Setelah kamu memahami langkah-langkah pembuatan resume yang
baik dan benar, tentunya akan sangat memudahkan kamu untuk menulis resume
nantinya. Kamu tidak akan terkecoh lagi antara resume dan ikhtisar pastinya.
Rabu, 05 Juni 2019
SUNAH-SUNAH IDUL FITRI
SUNAH-SUNAH IDUL FITRI
1.Takbiran
Disunnahkan untuk takbiran pada Idul Fitri sejak setelah Maghrib pada 1 Syawal hingga shalat Id. Takbiran Idul Fitri ini bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, semua disunnahkan takbiran baik di masjid maupun di rumah, termasuk saat berjalan menuju shalat Id.
2. Mandi sebelum berangkat shalat Id
Sebelum shalat Idul Fitri, umat Islam disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu. Mandi Idul Fitri dilakukan seperti mandi besar, hanya niatnya yang berbeda, yakni niat mandi sunnah Idul Fitri.
Doa Niat Mandi Sunah Hari Raya Idul Fitri:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liyaumi 'iiedil fithri sunnatan lillaahi ta'alaa
Artinya: Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Fitri sunah karena Allah Ta'ala
3. Memakai pakaian terbaik untuk shalat Id
Umat Islam disunnahkan untuk memakai pakaian terbaik yang dimilikinya untuk shalat Idul Fitri. Yakni pakaian yang paling bagus dan cocok untuk shalat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya” (HR. Hakim)
4. Memakai minyak wangi
Selain disunnahkan memakai pakaian terbaik, disunnahkan pula memakai minyak wangi khususnya saat menghadiri shalat Idul Fitri. Sebagaimana lanjutan hadits tersebut: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya dan memakai minyak wangi” (HR. Hakim)
5. Makan sebelum berangkat shalat Id
Umat Islam disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Id. Makan pagi ini sekaligus sebagai pertanda bahwa ia sedang tidak berpuasa setelah sebulan penuh berpuasa.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: ”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat ke lapangan pada hari raya Idul fitri hingga makan beberapa biji kurma” (HR. Al Bukhari dan Ahmad)
6. Berangkat shalat Idul Fitri seawal mungkin
Disunnahkan untuk berangkat shalat Idul Fitri seawal mungkin. Yakni setelah shalat Subuh, atau beberapa waktu setelah itu.
7. Menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang shalat Id
Disunnahkan untuk menempuh jalan yang berbeda antara pergi dan pulang shalat Idul Fitri. Jadi ketika pergi ke lapangan melewati satu jalan, hendaknya pulangnya melalui jalan yang lain.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Id, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.“ (HR. Al Bukhari)
8. Jalan kaki menuju tempat shalat Idul Fitri
Jika memungkinkan, disunnahkan untuk berjalan kaki menuju lapangan tempat shalat Idul Fitri sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.“ (HR. Ibnu Majah)
9. Mengajak serta wanita dan anak-anak
Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat Idul Fitri adalah wajib. Sedangkan mayoritasnya berpendapat hukumnya sunnah muakkad. Lepas dari perbedaan pendapat ini, Rasulullah memerintahkan wanita dan anak-anak untuk ikut serta shalat Id. Bagi wanita yang sedang haid, mereka tidak ikut shalat tetapi ikut mendengarkan khutbah dari tepi/pinggir lapangan tempat shalat.
10. Mengucapkan selamat hari raya
Ketika umat Islam bertemu di hari raya, disunnahkan untuk mengucapkan selamat hari raya sebagaimana para sahabat melakukannya. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa ucapan Idul Fitri yang diucapkan para sahabat ketika bertemu sahabat lainnya adalah taqabbalallahu minna wa minkum.
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertemu di hari Id, mereka berkata kepada sebagian lainnya: *taqabbalallahu minna wa minka*,” terangnya.
Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala."(HR. Al-Bukhari)
Wallahu a’lam bish shawab.
1.Takbiran
Disunnahkan untuk takbiran pada Idul Fitri sejak setelah Maghrib pada 1 Syawal hingga shalat Id. Takbiran Idul Fitri ini bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, semua disunnahkan takbiran baik di masjid maupun di rumah, termasuk saat berjalan menuju shalat Id.
2. Mandi sebelum berangkat shalat Id
Sebelum shalat Idul Fitri, umat Islam disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu. Mandi Idul Fitri dilakukan seperti mandi besar, hanya niatnya yang berbeda, yakni niat mandi sunnah Idul Fitri.
Doa Niat Mandi Sunah Hari Raya Idul Fitri:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liyaumi 'iiedil fithri sunnatan lillaahi ta'alaa
Artinya: Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Fitri sunah karena Allah Ta'ala
3. Memakai pakaian terbaik untuk shalat Id
Umat Islam disunnahkan untuk memakai pakaian terbaik yang dimilikinya untuk shalat Idul Fitri. Yakni pakaian yang paling bagus dan cocok untuk shalat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya” (HR. Hakim)
4. Memakai minyak wangi
Selain disunnahkan memakai pakaian terbaik, disunnahkan pula memakai minyak wangi khususnya saat menghadiri shalat Idul Fitri. Sebagaimana lanjutan hadits tersebut: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya dan memakai minyak wangi” (HR. Hakim)
5. Makan sebelum berangkat shalat Id
Umat Islam disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Id. Makan pagi ini sekaligus sebagai pertanda bahwa ia sedang tidak berpuasa setelah sebulan penuh berpuasa.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: ”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat ke lapangan pada hari raya Idul fitri hingga makan beberapa biji kurma” (HR. Al Bukhari dan Ahmad)
6. Berangkat shalat Idul Fitri seawal mungkin
Disunnahkan untuk berangkat shalat Idul Fitri seawal mungkin. Yakni setelah shalat Subuh, atau beberapa waktu setelah itu.
7. Menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang shalat Id
Disunnahkan untuk menempuh jalan yang berbeda antara pergi dan pulang shalat Idul Fitri. Jadi ketika pergi ke lapangan melewati satu jalan, hendaknya pulangnya melalui jalan yang lain.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Id, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.“ (HR. Al Bukhari)
8. Jalan kaki menuju tempat shalat Idul Fitri
Jika memungkinkan, disunnahkan untuk berjalan kaki menuju lapangan tempat shalat Idul Fitri sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.“ (HR. Ibnu Majah)
9. Mengajak serta wanita dan anak-anak
Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat Idul Fitri adalah wajib. Sedangkan mayoritasnya berpendapat hukumnya sunnah muakkad. Lepas dari perbedaan pendapat ini, Rasulullah memerintahkan wanita dan anak-anak untuk ikut serta shalat Id. Bagi wanita yang sedang haid, mereka tidak ikut shalat tetapi ikut mendengarkan khutbah dari tepi/pinggir lapangan tempat shalat.
10. Mengucapkan selamat hari raya
Ketika umat Islam bertemu di hari raya, disunnahkan untuk mengucapkan selamat hari raya sebagaimana para sahabat melakukannya. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa ucapan Idul Fitri yang diucapkan para sahabat ketika bertemu sahabat lainnya adalah taqabbalallahu minna wa minkum.
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertemu di hari Id, mereka berkata kepada sebagian lainnya: *taqabbalallahu minna wa minka*,” terangnya.
Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala."(HR. Al-Bukhari)
Wallahu a’lam bish shawab.
Sabtu, 01 Juni 2019
SEJARAH DAN GARIS KETURUNAN 25 NABI
https://ag-amaku-islam.blogspot.com/2019/05/sejarah-dan-garis-keturunan-nabi-dan.html?fbclid=IwAR0lrW0_MRvhpIltwvcVBFJrPE4G-P8g0Gl7VDlrQUYLJST3HtLTkkVzcmM&m=1
Selasa, 28 Mei 2019
3 CARA SEDERHANA MENDAPATKAN PENGHASILAN
3 CARA SEDERHANA MENDAPATKAN PENGHASILAN
Mentor pernah mengatakan kepada saya, bahwa uang itu mirip ayam liar di halaman. Kita bisa menangkap dan menikmatinya dengan tiga cara :
1. Sendirian mengejarnya, hasilnya capek dan dapatnya sedikit. Ini persis yang dikerjakan sebagian besar orang saat ini.
2. Bekerjasama dengan beberapa teman untuk menangkapnya. Lumayan sedikit lebih baik, meskipun belum terlalu sempurna.
3. Mengeluarkan uang dulu untuk membeli pakan dan pagar. Kita pancing uangnya (sorry ayamnya) dengan pakan, kemudian setelah mereka berkumpul dan jinak, kita bangun pagar sekeliling nya. Tiba tiba kita memiliki peternakan ayam (eh sorry . . .uang). Tidak perlu susah payah mengejarnya jika ingin makan ayam.
Mentor pernah mengatakan kepada saya, bahwa uang itu mirip ayam liar di halaman. Kita bisa menangkap dan menikmatinya dengan tiga cara :
1. Sendirian mengejarnya, hasilnya capek dan dapatnya sedikit. Ini persis yang dikerjakan sebagian besar orang saat ini.
2. Bekerjasama dengan beberapa teman untuk menangkapnya. Lumayan sedikit lebih baik, meskipun belum terlalu sempurna.
3. Mengeluarkan uang dulu untuk membeli pakan dan pagar. Kita pancing uangnya (sorry ayamnya) dengan pakan, kemudian setelah mereka berkumpul dan jinak, kita bangun pagar sekeliling nya. Tiba tiba kita memiliki peternakan ayam (eh sorry . . .uang). Tidak perlu susah payah mengejarnya jika ingin makan ayam.
PENDAPAT 4 MADZHAB TENTANG BERAPA Kg ZAKAT FITRAH YG HARUS DI KELUARKAN. 1 SHA'=... Kg?
*PENDAPAT 4 MADZHAB TENTANG BERAPA Kg ZAKAT FITRAH YG HARUS DI KELUARKAN* 1 SHA'=... Kg?
🙏🕋☪__________________
Madzhab Hanafi
والصاع عند أبي حنيفة ومحمد ثمانية أرطال بالعراقي، والرطل العراقي مئة وثلاثون درهماً، ويساوي 3800 غراماً؛ لأنه عليه السلام كان يتوضأ بالمد رطلين، ويغتسل بالصاع ثمانية أرطال (الفقه الاسلامي وأدلته: 3/384)
“Sha’ menurut Abu Hanifah dan Muhammad adalah 8 rithl Iraqi. Satu rithl Iraqi sama dengan bobot 130 dirham dan membandingi 3800 gr. Karena Nabi Muhammad berwudlu dengan 1 mud yaitu 2 rithl, dan mandi dengan sha’ yaitu 8 rithl.” Jadi menurut madzhab Hanafi 1 sha’ adalah 3800 gr atau 3,8 kg.
Madzhab Maliki
وزكاة الفطر صاع (أربعة أمداد) والمد: حفنة ملء اليدين المتوسطتين. (الفقه الاسلامي وأدلته:3/385)
“Zakat Fitrah adalah 1 sha’ sama dengan 4 mud. Sedangkan 1 mud nya adalah cakupan penuh dua telapak tangan yang sedang”
Perkiraan orang Indonesia 1 mud adalah 6,75 ons. Jadi 6,75 ons x 4 = 2,7 kg. Dengan demikian 1 sha’ menurut madzhab Maliki adalah 2,7 kg.
Madzhab Syafi'i
ومقدارها صاع وهو في الأصح ست مئة درهم وخمسة وثمانون درهماً وخمسة أسباع درهم ( 685 و 8/5) أو خمسة أرطال وثلث بالبغدادي، وأربعة أرطال ونصف وربع رطل وسبع أوقية بالمصري. (الفقه الاسلامي وأدلته:3/385)
“Kira-kira zakat fitrah adalah 1 sha’. Pendapat yang lebih tepat 1 sha’ adalah 685 dirham dan 5/8 dirham atau 5 1/3 rithl Baghdad, atau 4 + ½ + ¼ rithl + 1/7 uqiyah Mesir.”
وهو خمسة أرطال وثلث بالعراقي ووزنه ستمائة درهم وثلاثة وتسعون درهما وثلث درهم وهذا عند الرافعي لأنه يقول إن رطل بغداد مائه وثلاثون درهما وقال النووي إن الرطل مائة وثمانية وعشرون درهما وأربعة أسباع درهم والاعتبار في الصاع بالكيل وإنما قدر العلماء الصاع بالوزن استظهارا قال النووي قد يستشكل ضبط الصاع بالأرطال فإن الصاع المخرج به في زمنه عليه الصلاة والسلام مكيال معروف ويختلف قدره وزنا باختلاف جنس ما يخرج كالذرة والحمص وغيرهما فالصواب الاعتماد على الكيل دون الوزن فالواجب أن يخرج بصاع معاير بالصاع الذي كان يخرج به في من رسول الله صلى الله عليه وسلم فمن لم يجد وجب عليه أن يخرج قدرا يتيقن أنه لا ينقص عنه وعلى هذا فالتقدير بخمسة أرطال وثلث تقريب وقال جماعة من العلماء أنه قدر أربع حفنات بكفي رجل معتدل الكفين والله أعلم (كفاية الاخيار: 1/188)
Singkatnya kalau dikonversikan ke satuan gram kira-kira 2.7519 gr atau 2,75 kg. Jadi sha’ menurut madzhab Syafi’i adalah 2,75 kg.
Madzhab Hanbali
ومقدارها صاع عراقي وهو أربع حفنات بكفي رجل معتدل القامة؛ لأنه الذي أخرج به في عهده صلّى الله عليه وسلم (الفقه الاسلامي وأدلته:3/385)
“Kira-kiranya adalah 1 sha’ Iraqi, yaitu 4 cakupan penuh dengan telapak tangan manusia yang sedang. Karena hal inilah yang dikeluarkan di masa Rasulullah”
Sebagian Ulama
الصاع سدس كيله مصرية أي قدح وثلث مصري وهو يساوى بالجرامات 2176
“1 sha’ adalah 1/6 + 1/3 kilah Mesir (wadah gelas) atau sama dengan 2.176 gr”
الصاع النبوي يبلغ وزنه أربعمائة وثمانية مثقالا من البد الجيد أى ألفى جرام 40 جرام و2 كيلو
“Sha’ Nabawi timbangannya mencapai 408 mitsqal dari bagian yang baik, artinya 2040 gr atau 2,04 kg.”
Kalau kita melihat batasan atas dan batasan bawah atau istilah lain Hadd al-a’la dan hadd al-adna, maka bisa kita temukan yang tertinggi adalah Imam Abu Hanifah yang berpendapat 3,8 kg. Sedangkan yang paling rendah adalah 2,04 kg.
Sedangkan rata-rata Ulama Indonesia mengambil jalan tengan, jika menurut Jumhur Ulama adalah 2,7 kg dan yang terendah adalah 2,04 kg, maka jalan tengahnya adalah 2,5 kg. Selebihnya dari takaran tersebut merupakan hal yang lebih utama (afdol).
🙏🕋☪__________________
Madzhab Hanafi
والصاع عند أبي حنيفة ومحمد ثمانية أرطال بالعراقي، والرطل العراقي مئة وثلاثون درهماً، ويساوي 3800 غراماً؛ لأنه عليه السلام كان يتوضأ بالمد رطلين، ويغتسل بالصاع ثمانية أرطال (الفقه الاسلامي وأدلته: 3/384)
“Sha’ menurut Abu Hanifah dan Muhammad adalah 8 rithl Iraqi. Satu rithl Iraqi sama dengan bobot 130 dirham dan membandingi 3800 gr. Karena Nabi Muhammad berwudlu dengan 1 mud yaitu 2 rithl, dan mandi dengan sha’ yaitu 8 rithl.” Jadi menurut madzhab Hanafi 1 sha’ adalah 3800 gr atau 3,8 kg.
Madzhab Maliki
وزكاة الفطر صاع (أربعة أمداد) والمد: حفنة ملء اليدين المتوسطتين. (الفقه الاسلامي وأدلته:3/385)
“Zakat Fitrah adalah 1 sha’ sama dengan 4 mud. Sedangkan 1 mud nya adalah cakupan penuh dua telapak tangan yang sedang”
Perkiraan orang Indonesia 1 mud adalah 6,75 ons. Jadi 6,75 ons x 4 = 2,7 kg. Dengan demikian 1 sha’ menurut madzhab Maliki adalah 2,7 kg.
Madzhab Syafi'i
ومقدارها صاع وهو في الأصح ست مئة درهم وخمسة وثمانون درهماً وخمسة أسباع درهم ( 685 و 8/5) أو خمسة أرطال وثلث بالبغدادي، وأربعة أرطال ونصف وربع رطل وسبع أوقية بالمصري. (الفقه الاسلامي وأدلته:3/385)
“Kira-kira zakat fitrah adalah 1 sha’. Pendapat yang lebih tepat 1 sha’ adalah 685 dirham dan 5/8 dirham atau 5 1/3 rithl Baghdad, atau 4 + ½ + ¼ rithl + 1/7 uqiyah Mesir.”
وهو خمسة أرطال وثلث بالعراقي ووزنه ستمائة درهم وثلاثة وتسعون درهما وثلث درهم وهذا عند الرافعي لأنه يقول إن رطل بغداد مائه وثلاثون درهما وقال النووي إن الرطل مائة وثمانية وعشرون درهما وأربعة أسباع درهم والاعتبار في الصاع بالكيل وإنما قدر العلماء الصاع بالوزن استظهارا قال النووي قد يستشكل ضبط الصاع بالأرطال فإن الصاع المخرج به في زمنه عليه الصلاة والسلام مكيال معروف ويختلف قدره وزنا باختلاف جنس ما يخرج كالذرة والحمص وغيرهما فالصواب الاعتماد على الكيل دون الوزن فالواجب أن يخرج بصاع معاير بالصاع الذي كان يخرج به في من رسول الله صلى الله عليه وسلم فمن لم يجد وجب عليه أن يخرج قدرا يتيقن أنه لا ينقص عنه وعلى هذا فالتقدير بخمسة أرطال وثلث تقريب وقال جماعة من العلماء أنه قدر أربع حفنات بكفي رجل معتدل الكفين والله أعلم (كفاية الاخيار: 1/188)
Singkatnya kalau dikonversikan ke satuan gram kira-kira 2.7519 gr atau 2,75 kg. Jadi sha’ menurut madzhab Syafi’i adalah 2,75 kg.
Madzhab Hanbali
ومقدارها صاع عراقي وهو أربع حفنات بكفي رجل معتدل القامة؛ لأنه الذي أخرج به في عهده صلّى الله عليه وسلم (الفقه الاسلامي وأدلته:3/385)
“Kira-kiranya adalah 1 sha’ Iraqi, yaitu 4 cakupan penuh dengan telapak tangan manusia yang sedang. Karena hal inilah yang dikeluarkan di masa Rasulullah”
Sebagian Ulama
الصاع سدس كيله مصرية أي قدح وثلث مصري وهو يساوى بالجرامات 2176
“1 sha’ adalah 1/6 + 1/3 kilah Mesir (wadah gelas) atau sama dengan 2.176 gr”
الصاع النبوي يبلغ وزنه أربعمائة وثمانية مثقالا من البد الجيد أى ألفى جرام 40 جرام و2 كيلو
“Sha’ Nabawi timbangannya mencapai 408 mitsqal dari bagian yang baik, artinya 2040 gr atau 2,04 kg.”
Kalau kita melihat batasan atas dan batasan bawah atau istilah lain Hadd al-a’la dan hadd al-adna, maka bisa kita temukan yang tertinggi adalah Imam Abu Hanifah yang berpendapat 3,8 kg. Sedangkan yang paling rendah adalah 2,04 kg.
Sedangkan rata-rata Ulama Indonesia mengambil jalan tengan, jika menurut Jumhur Ulama adalah 2,7 kg dan yang terendah adalah 2,04 kg, maka jalan tengahnya adalah 2,5 kg. Selebihnya dari takaran tersebut merupakan hal yang lebih utama (afdol).
Langganan:
Postingan (Atom)
7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI
7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI Dalam Kitab Qotrul Ghois Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang d...
-
NADHOMAN TAREKH NABI Muhammad SAW ; NABI URANG SAREREA *BismillaahirRohmaanirRohiim* 1 Nabi urang saréréa, Kangjeng Nabi anu mulya, ...
-
7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI Dalam Kitab Qotrul Ghois Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang d...
-
http://paiskbtasikmalaya.blogspot.co.id/

