Sabtu, 30 November 2024

Shalat sakit & mayit

 Wa'alaikumsalam...

izin menjawab.


*Deskripsi Masalah*

Ada seseorang yg sakit selama 15 hari, dan selama itu pula dia tdk melakukan sholatnya sampai meniggal.


*Pertanyaan*

*1. Apakah masih wajib melakukan sholat selama sakit?*

*Jawaban:*

Diperinci;

•Tetap wajib selama ia masih sadar, dan sholatnya sesuai dengan kemampuannya, jika ia mampu berdiri maka harus berdiri, jika tidak mampu berdiri maka duduk, jika tidak mampu duduk maka dengan tidur miring, jika tidak mampu tidur miring maka dengan tidur telentang, jika tidak mampu menggerakkan badan saat tidur telentang maka cukup dengan isyarat. Namun jika tidak memungkinkan shalat karena terlalu parah, maka boleh mengikuti Madzhab imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa diperbolehkan meinggalkan shalat jika tidak mampu melakukan sholat dengan gerakan kepala (contohnya orang yang stroke)


Hadits:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ طَهْمَانَ ، قَالَ : حَدَّثَنِي الْحُسَيْنُ الْمُكْتِبُ ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلَاةِ فَقَالَ : ” صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ 

"Telah menceritakan kepada kami Abdan, dari Abdillah, dari Ibrahim bin Tohman, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Husain Al-Muktib, dari Ibni Burdah, dari Imron bin Husoinin Radhiyallahu Anhu yang saat itu sedang menderita sakit wasir, kemudian ia berkata; Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sholat, Rasulullah Saw, bersabda: ”Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak bisa maka duduklah, dan jika tidak bisa maka shalat dengan berbaring”.


Kitab:

بغية المسترشدين (١٦٢) - فَائِدَةُ: يَجِبُ عَلى المَرِيضِ أَنْ يُؤَدِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ كَمَالِ شُرُوطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَاجْتِنَابَ مُبْطِلاتِهَا حَسْبَ قُدْرَتِهِ وَإِمْكَانِهِ، وَلَهُ الْجُلُوسُ ثُمَّ الاِضْطِجَاعُ ثُمَّ الاسْتِلْقَاءُ وَالْإِيْمَاءُ إِذَا وُجِدَ مَا تُبِيْحُهُ عَلَى مَا قُرِّرَ فِي المَذْهَبِ، فَإِنْ كَثُرَ ضَرَرُهُ وَاشْتَدَّ مَرَضُهُ وَخُشِيَ تَرْكُ الصَّلَاةِ رَأْساً فَلا بَأْسَ بِتَقْلِيدِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ، وَإِنْ فُقِدَتْ بَعْضُ الشَّرُوطِ عِنْدَنَا. وَحَاصِلُ مَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بن خَاتِمِ فِي رِسَالَتِهِ فِي صَلَاةِ الْمَرِيضِ أَنَّ مَذْهَبَ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الْمَرِيْضَ إِذَا عَجَزَ عَنِ الإِيْمَاءِ بِرَأْسِهِ جَازَ لَهُ تَرْكُ الصَّلَاةِ، فَإِنْ شَفَى بَعْدَ مُضِي يَوْمٍ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَإِذَا عَجَزَ عَنِ الشَّرُوطِ بِنَفْسِهِ وَقَدَرَ عَلَيْهَا بِغَيْرِهِ فَظَاهِرُ الْمَذْهَبِ وَهُوَ قَوْلُ الصَّاحِبَيْنِ لُزُوْمُ ذَلِكَ، إِلَّا إِنْ لَحِقَتْهُ مَشَقَّةٌ بِفِعْلِ الْغَيْرِ، أَوْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ تَخْرُجُ مِنْهُ دَائِمًا، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَفْتَرِضُ عَلَيْهِ مُطْلَقًا، لِأَنَّ الْمُكَلَّفَ عِنْدَهُ لَا يُعَدُّ قَادِرًا بِقُدْرَةِ غَيْرِهِ، وَعَلَيْهِ لَوْ تَيَمَّمَ الْعَاجِزُ عَنِ الْوُضُوْءِ بِنَفْسِهِ، أَوْ صَلَّى بِنَجَاسَةٍ أَوْ إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ مَعَ وُجُوْدِ مَنْ يَسْتَعِينُ بِهِ وَلَمْ يَأْمُرْهُ


•Tidak wajib ketika sakitnya berupa hilangnya akal (tidak sadar) contohnya seperti koma, pingsan.

Apabila tidak sadar nya bukan karena suatu hal yang diharamkan (misal mabuk²an) maka ketika ia sudah sadar ia tidak wajib menqodlo' sholat yang ia tinggalkan selama pingsan/koma.


المجموع شرح المهذب (٣/٨) - من زال عقله بسبب غير محرم ، كمن جن أو أغمي عليه أو زال عقله بمرض أو بشرب دواء لحاجة أو أكره على شرب مسكر فزال عقله فلا صلاة عليه ، وإذا أفاق فلا قضاء عليه ، بلا خلاف للحديث ، سواء قل زمن الجنون والإغماء أو كثر


"Barang siapa hilang akalnya karena suatu sebab yang tidak haram, seperti orang gila, pingsan, hilang akal karena penyakit, minum obat karena kebutuhan, atau dipaksa minum minuman keras sehingga hilang akalnya, maka tidak ada kewajiban shalat baginya. Jika dia sadar kembali, maka tidak ada kewajiban untuk mengqadhanya, tanpa ada perbedaan pendapat berdasarkan hadits, baik waktu gila atau pingsannya sedikit maupun banyak. Inilah mazhab kami."


*2. Kalo selama sakit tdk sholat, bagaimana cara mengqodlo'nya?*

*Jawaban:* Jika selama sakit ia masih sadar maka wajib diqodlo' saat sudah sembuh, jika selama sakit ia tidak sadar (koma, pingsan) maka diperinci; 

-Jika hilang akal nya karena hal yang diharamkan maka wajib Qodlo'

-Jika hilang akalnya karena selain hal yang diharamkan maka tidak wajib Qodlo'. (Ibarot ikut yang diatas)


*3. apakah boleh di qodlo oleh anak2nya?*

*Jawaban:*

Khilaf. Pendapat masyhur dalam mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa ibadah shalat mayit (orang yang sudah wafat) tidak dapat diqadlai oleh siapa pun, serta tidak dapat digantikan dengan pembayaran fidyah berupa menyedekahkan makanan pokok. Pendapat lain mengatakan bahwa shalat yang ditinggalkan oleh mayit semasa hidup dapat diqadlai.


Dalam qaul qadim Imam As-Syafi’i berpandangan bahwa jika mayit meninggalkan harta warisan (tirkah) maka wajib bagi wali mayit (anak, saudara, dan lain-lain) untuk mengqadlai shalatnya. Sedangkan pendapat terakhir menyebutkan bahwa setiap shalat yang ditinggalkan oleh mayit digantikan dengan pembayaran fidyah (pemberian makanan pokok) kepada fakir miskin sebesar satu mud (0,6 kilogram atau ¾ liter) makanan pokok.  


فتح المعين بشرح قرة العين (٢/٢٧٦) - (فائدة) من مات وعليه صلاة، فلا قضاء، ولا فدية. وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه، لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه، ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي - إن خلف تركه - أن يصلي عنه، كالصوم. وفي وجه - عليه كثيرون من أصحابنا - أنه يطعم عن كل صلاة مدا. وقال المحب الطبري: يصل للميت كل عبادة تفعل عنه: واجبة أو مندوبة. وفي شرح المختار لمؤلفه: مذهب أهل السنة أن للانسان أن يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله.  


"Faidah. Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki tanggungan shalat, ia tidak wajib mengqadla dan membayar fidyah (atas shalat tersebut). Sedangkan menurut sebagian pendapat—seperti sekelompok mujtahid—shalat tersebut diqadlai, berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari dan lainnya. Pendapat ini juga dipilih oleh para imam mazhab kita (Syafi’i) dan Imam as-Subki melakukan hal ini pada sebagian kerabatnya. Imam Ibnu Burhan menukil dari qaul qadim bahwa wajib bagi wali untuk menshalati atas shalat yang mayit tinggalkan, jika memang mayit meninggalkan harta tirkah (warisan)."


المجموع شرح المهذب (٦/٣٧٢) - {فرع} لو مات وعليه صلاة أو اعتكاف لم يفعلهما عنه وليه ولا يسقط عنه بالفدية صلاة ولا اعتكاف * هذا هو المشهور في المذهب والمعروف من نصوص الشافعي في الام وغيره ونقل البويطي عن الشافعي أنه قال في الاعتكاف يعتكف عنه وليه وفى وراية يطعم عنه قال البغوي ولا يبعد تخريج هذا في الصلاة فيطعم عن كل صلاة مد  


 "Jika seseorang meninggal dan ia memiliki tanggungan shalat atau i’tikaf yang belum ia lakukan, maka pihak wali mayit tidak dapat melakukan kedua ibadah tersebut atas ganti mayit, dan membayar fidyah pun tidak menggugugurkan tanggungan shalat dan i’tikaf mayit. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i dan pandangan yang terkenal dalam nash Imam as-Syafi’i dalam kitab al-Um dan kitab yang lain.   

Imam al-Buwaithi menukil dari Imam as-Syafi’i bahwa beliau berpandangan tentang I’tikaf bisa digantikan oleh pihak wali, sedangkan dalam sebagian riwayat digantikan dengan memberi makanan (fidyah) atas ganti tanggungan i’tikaf mayit. Imam al-Baghawi berkata: ‘Tidak jauh untuk memberlakukan hal ini dalam shalat, maka pihak wali memberi makanan (fidyah) satu mud atas setiap shalat.”


4. Bagaimana cara menghitung fidyahnya? Apakah d hitung selama sakit atau d hitung sholatnya mulai usia baligh?

*Jawaban:*

Di hitung dari sholat yang ia tinggalkan semenjak ia terkena kewajiban sholat (yaitu saat sudah baligh) dan pembayaran sholatnya pun sesuai yang diketahui oleh ahli waris.

Adapun untuk fidyah nya, dibayar dengan cara setiap satu sholat diganti 1 mud (6,7 ons) makanan pokok. 


حاشية إعانة الطالبين ( ١ / ٣٣) - (فَائِدَةٌ) مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلَاةُ فَلَا قَضَاءَ وَلَا فِدْيَةَ. وَفِي قَوْلٍ - كَجَمْعِ مُجْتَهِدِينَ - أَنَّهَا تُقْضَى عَنْهُ لِخَبَرِ الْبُخَارِيَّ وَغَيْرِهِ، وَمِنْ ثَمَّ اِخْتَارَهُ جَمْعُ مِنْ أَئِمَّتِنَا ، وَفَعَلَ بِهِ السُّبْكِي عَنْ بَعْضِ أَقَارِبِهِ وَنَقَلَ ابْنُ بُرْهَانٍ عَنِ الْقَدِيمِ أَنَّهُ يَلْزَمُ الْوَلِيَّ إِنْ خَلَفَ تِرْكَةً أَنْ يُصَلَّى عَنْهُ، كَالْصَّوْمِ. وَفِي وَجْهِ - عَلَيْهِ كَثِيرُوْنَ مِنْ أَصْحَابِنَا - أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدًّا.

Kamis, 21 November 2024

Mani, madzi dan wadi

 Wa'alaikumussalam

pengertian/perbdaan mani, madzi dan wadi sebagai berikut :


1️⃣.MANI adalah cairan putih keluar dengan tersendat-sendat disertai syahwat serta menyebabkan loyo setelah keluarnya.

Hukumnya suci dan wajib mandi. Ciri-ciri mani ada 3, yaitu :

- keluar disertai syahwat (kenikmatan).

- keluar dengan tersendat-sendat.

- jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur.

Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, maka disebut mani. Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan.

2️⃣.MADZI adalah cairan putih lembut dan licin keluar pada permulaan bergejolaknya syahwat. Istilah madzi untuk laki-laki, namun jika keluar dari perempuan dinamakan QUDZA.

Hukumnya najis dan membatalkan wudhu tapi tidak wajib mandi.

3️⃣.WADI adalah cairan putih keruh dan kental, keluar setelah melaksanakan kencing atau ketika mengangkat beban berat.

Hukumnya seperti madzi yaitu najis dan membatalkan wudhu’ tapi tidak wajib mandi.

KESIMPULAN :

1.Jika cairan keluar mengandung salah satu ciri-ciri mani, maka dihukumi mani. Namun jika tidak ada dan keluarnya pada mulai gejolaknya syahwat atau sesudah syahwat, maka dihukumi madzi.

2.Jika ragu yang keluar mani atau madzi ?, maka boleh memilih antara menjadikannya mani sehingga wajib mandi, atau menjadikannya madzi sehingga hukumnya najis, tidak wajib mandi namun batal wudhu’nya. Paling afdholnya menggabung keduanya yaitu mandi janabah dan menyucikan tempat yang terkena cairan tersebut.

3.Wanita juga mengeluarkan mani dengan ciri-ciri sebagaimana di atas. Namun menurut imam Al-Ghozali, mani wanita hanya bercirikan keluar disertai syahwat (kenikmatan).

التقريرات االسديدة في المسائل المفيدة ص 115-116

الفرق بين المني والمذي والودي :

المني : ماء أبيض يتدفق حال خروجه ويخرج بشهوة ويعقب خروجه فتور.

المذي : ماء أبيض رقيق لزج يخرج عند ثوران الشهوة بلا شهوة كاملة

الودي : ماء أبيض ثخين كدر يخرج بعد البول أو عند حمل شيئ ثقيل

الحكم عند خروج أحدها :

المني يوجب الغسل ولا ينقض الوضوء وهو طاهر

المذي والودي حكمهما كالبول فينقضان الوضوء وهما نجسان

علامة المني يجب الغسل إذا وجدت إحدى هذه العلامات ولا يشترط كلها والمرأة مثل الرجل في ذلك وهي ثلاثة :

1. التلذذ بخروجه أي يخرج بشهوة

2. التدفق أي يخرج على دفعات

3. الرائحة إذا كان رطبا كرائحة العجين أو الطلع ، وإذا كان جافا كرائحة بياض البيض

فليس من علامات المني كونه أبيضا أو يعقب خروجه فتور ولكن هذا على سبيل الغالب

كما قال صاحب صفوة الزبد :

ويعرف المني باللذة حين # خروجه وريح طلع أو عجن


مسألة : إذا شك هل الخارج مني ام مذي فما الحكم؟ يتخير فإن شاء جعله منيا فيجب عليه الغسل وإن شاء جعله مذيا فينتقض وضوؤه ويجب غسل ما أصابه منه والأفضل أن يجمع بينهما فيغتسل ويغسل ما اصابه منه

Jumat, 15 November 2024

Makna Sakinah, Mawaddah dan Rahmah

 Makna Sakinah, Mawaddah dan Rahmah


Kita sering mendengar istilah sakinah, mawadah dan rahmah dalam konteks pernikahan, tapi sepertinya sedikit orang yang betul-betul paham istilah tersebut. Biasanya, pemaknaannya memakai perkiraan dan bahkan banyak yang memberikan bumbu-bumbu dramatis yang panjang lebar dalam pemaknaannya seperti saat anda membaca makna kata ini dalam buku-buku konseling, motivasi atau mau'idhah. Tapi kalau kita baca kitab-kitab tafsir dan membuang bumbu-bumbu dramatis tersebut, maka maknanya sederhana seperti ini:


1. Sakinah


Sakinah secara bahasa berarti ketenangan. Dari sini sering disangka bahwa yang dimaksud adalah ketenangan batin. Akhirnya sakinah masuk dalam doa orang-orang pada pengantin baru. Padahal ketenangan yang dimaksud bukan itu, tapi ketenangan otot-otot tubuh setelah berhubungan badan atau dalam bahasa yang agak vulgar adalah hubungan seksual. 


Al-Qur'an memakai bahasa yang halus sehingga kata seksual tidak pantas digunakan di sana, maka digunakanlah kata "ketenangan" sebagai gantinya. Perhatikan ayatnya:


وَمِنۡ ءَایَـٰتِهِ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا لِّتَسۡكُنُوۤا۟ إِلَیۡهَا 


"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu tenang kepadanya" [Surat Ar-Rum: 21]


Kata "agar kamu tenang kepadanya" maknanya adalah agar kamu berhubungan badan secara halal kepadanya. Menikah agar berhubungan badan ini bukan makna yang aneh sebab ia adalah tujuan primer dari pernikahan. Saking pentingnya hal ini, sampai-sampai sumpah suami untuk tidak berhubungan badan dengan istrinya dijadikan dosa yang serius dalam al-Qur'an. Dalam konteks ini, tidak pas kalau sakinah dimasukkan sebagai doa sebab sakinah dalam makna ini sudah pasti terjadi ketika sepasang suami istri menikah. Sama seperti ucapan 'kamu harus makan agar kenyang', tidak perlu diubah menjadi doa semisal 'semoga kamu kenyang dalam makanmu.'


Keberadaan pasangan di sini didahului dengan kata khalaqa (menciptakan) yang biasanya digunakan untuk konteks mencipta dari tiada menjadi ada. Maksudnya, seperti halnya Allah menciptakan langit dan bumi dari tiada, Allah sudah menciptakan pasangan bagi masing-masing orang dari tiada menjadi ada. Tujuan penciptaan pasangan adalah agar keduanya bisa berhubungan badan secara halal dan bereproduksi. Dalam proses penciptaan ini, tidak ada campur tangan manusia sehingga benar bila orang berkata bahwa jodoh sudah ditentukan sebab memang diksi yang digunakan adalah 'diciptakan'.


2. Mawaddah


Kata mawaddah adalah perasaan simpatik saat melihat nilai plus dalam diri seseorang. Ketika suami melihat nilai plus dari istrinya, semisal karena cantik, pintar, kaya, dan sebagainya, maka itulah yang disebut mawaddah. Ketika istri melihat nilai plus dari suaminya, semisal kaya, berpengaruh, tampan, gagah, bertanggung-jawab dan sebagainya, maka itulah yang disebut mawaddah. Kata mawaddah bisa diterjemah sebagai cinta, tapi bukan cinta buta tentunya tapi cinta berdasarkan melihat nilai plus yang ada di pasangan. 


Penyebutan kata mawaddah di awal menunjukkan bahwa pernikahan yang ideal harus berdasarkan nilai-nilai plus yang dilihat dari diri pasangan. Kalau tidak ada nilai plusnya, maka hubungan tersebut bermasalah.


3. Rahmah


Kata rahmah adalah perasaan simpatik saat melihat nilai minus dari seseorang. Ketika anda melihat pengemis di jalan lalu anda merasa simpatik padanya sehingga memberinya bantuan, maka itulah rahmah. Sama seperti itu ketika  suami/istri melihat kekurangan di diri pasangannya, tapi tetap merasa simpatik, maka itulah rahmah. Kata rahmah paling akurat diterjemah sebagai "kasihan" daripada menggunakan "kasih sayang". Dari sini anda tahu bahwa Tuhan mempunyai sifat Rahman-Rahim artinya Tuhan sangat kasihan pada hambanya meski hambanya banyak salah dan kekurangannya. 


Penyebutan rahmah di akhir menunjukkan bahwa rahmah lumrahnya ada di akhir pernikahan ketika pasangan sudah tua dan terlihat aneka kekurangannya. Setidaknya di tengah pernikahan ketika kekurangan-kekurangan itu sudah mulai terlihat. Kalau rahmah ada sejak awal pernikahan, maka hubungannya bermasalah sebab didasarkan semata pada kasihan.


Kemudian, kata mawaddah dan rahmah di al-Qur'an didahului dengan kata kerja ja'ala (menjadikan). Perhatikan ayatnya:


وَمِنۡ ءَایَـٰتِهِ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا لِّتَسۡكُنُوۤا۟ إِلَیۡهَا وَجَعَلَ بَیۡنَكُم مَّوَدَّةࣰ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّقَوۡمࣲ یَتَفَكَّرُونَ


"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia MENJADIKAN di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." [Surat Ar-Rum: 21]


Berbeda dengan kata sakinah yang memang menjadi tujuan primer pernikahan sehingga pasti terjadi, kata mawaddah dan rahmah diawali dengan ja'ala (menjadikan) yang biasanya digunakan dalam arti membuat sesuatu dari sesuatu yang lain. Misal anda menjadikan kayu berubah menjadi kursi dan menjadikan beras berubah menjadi nasi.


Penggunaan kata ja'ala ini menandakan  bahwa mawaddah dan rahmah tercipta dari bahan lain yang sudah ada sebelumnya dalam diri pasangan yang menikah. Ia tidak ujug-ujug ada diciptakan oleh Allah seperti jodoh, tapi perlu bahan baku yang bisa dijadikan bahan baku untuk memproduksi mawaddah dan rahmah. Apa bahan baku tersebut? Bahan bakunya antara lain sikap dewasa, pengertian, komunikasi yang sehat, tidak egois dan seterusnya. Dari hal-hal tersebut, Allah menjadikan tumbuhnya mawaddah dan rahmah dalam diri pasangan suami-istri. Dengan kata lain, kalau pasangan suami-istri tidak menyediakan bahannya, lumrahnya Allah tidak menjadikan mawaddah dan rahmah dalam rumah tangga mereka. Dalam konteks ini, maka keberadaan mawaddah dan rahmah merupakan sesuatu yang layak didoakan sebab memang tidak semua pernikahan memilikinya.


Sampai sini anda pasti paham bahwa jodoh itu diciptakan dan keduanya pasti berhubungan badan (ber-sakinah pada pasangannya) sebagai kebutuhan biologis. Tapi belum tentu pasangan yang berjodoh itu akan hidup harmonis dalam mawaddah dan rahmah. Sebab itu jangan heran lagi ketika anda melihat rumah tangga yang hubungannya hancur dan tidak harmonis tapi terus punya anak lagi, lagi dan lagi. Sakinah itu hasil dari penciptaan jodoh, sedangkan mawaddah dan rahmah adalah hasil dari usaha kedua pasangan untuk saling bahagia dan membahagiakan.


Semoga bermanfaat, terutama bagi kawan-kawan yang sering ditodong buat ceramah di acara pernikahan dan bagi para pengantin baru maupun lama.

Senin, 11 November 2024

HUKUM UANG MASJID UNTUK KEMASLAHATAN SOSIAL

 HUKUM UANG MASJID UNTUK KEMASLAHATAN SOSIAL


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳﻠِّﻢ


.

BAHTSUL MASAA'IL 


PERTANYAAN:


1️⃣. Bagaimana hukum mengalokasikan harta kekayaan masjid untuk permasalahan sosial seperti membagikan sembako kepada faqir miskin disekitar masjid, modal usaha, biaya pendidikan dll.


2️⃣. Jika tidak diperbolehkan, adakah solusi yang bisa ditempuh pengurus masjid untuk bisa mengalokasikan harta milik masjid kepada faqir miskin?


3️⃣. Bagaimana seharusnya harta masjid dialokasikan jika jumlahnya sangat banyak hingga melebihi kebutuhan masjid?


JAWABAN.


1

Harta kekayaan masjid itu terbagi menjadi 2 :


1️⃣. Untuk bangunan fisik atau imaroh, maka alokasinya wajib yang bersifat pembangunan tidak boleh dialihkan pada nom fisik.


2️⃣. Harta untuk kemaslahatan masjid, alokasi yang kedua ini adalah untuk pembangunan masjid dan hal-hal yang bersifat maslahat kembali pada masjid atau hal-hal yang ada hubungannya dengan kemakmuran masjid. 


Maka harta kekayaan masjid, secara mutlaq tidak boleh ditashorrufkan untuk kebutuhan sosial atau hal apa-apai yang tidak ada kaitannya dengan masjid atau kemaslahatan masjid. 


2️⃣. Untuk solusi harta yang berlimpah boleh ditashorrufkan untuk jemaat masjid atas dasar kemashlatahan atau atas nama "Mimma Yurghibu Al-mushollin". Dengan catatan sudah tidak dibutuhkan untuk hal yang lebih urgen lainnya.


3️⃣. Agar tashorrufnya bisa diberikan pada faqir miskin, maka di kotak amal ditulis semisal "Untuk kemaslahatan umum" sebagai pemberitahuan pada munfiqin yang hendak berinfaq bahwasanya uang infaq tersebut akan dialokasikan pada selain masjid. Jadi harta ini bukan milik masjid.


Referensi:


Bughyatul Mustarstudin, Halaman 65:


ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد في المسجد من قهوة ودخون وغيرهما مما يرغب نحو المصلين ، وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته.


Diperbolehkan bahkan disunnahkan bagi takmir melakukan sesuatu yang biasa dilakukan di masjid, seperti menyediakan kopi, rokok dan sesuatu yang disukai para jama’ah walaupun hal ini tidak dibiasakan sebelumnya apabila uang kas ini sudah melebihi untuk pembangunan masjid.


 بغية المسترشدين, صحفة ٦٥.


Qolyubi:


فُرُوعٌ : عِمَارَةُ الْمَسْجِدِ هِيَ الْبِنَاءُ وَالتَّرْمِيمُ وَالتَّجْصِيصُ لِلْأَحْكَامِ وَالسَّلَالِمُ وَالسَّوَارِي وَالْمَكَانِسُ وَالْبَوَارِي لِلتَّظْلِيلِ أَوْ لِمَنْعِ صَبِّ الْمَاءِ فِيهِ لِتَدْفَعَهُ لِنَحْوِ شَارِعٍ وَالْمَسَّاحِي وَأُجْرَةُ الْقَيِّمِ وَمَصَالِحِهِ تَشْمَلُ ذَلِكَ ، وَمَا لِمُؤَذِّنٍ وَإِمَامٍ وَدُهْنٍ لِلسِّرَاجِ وَقَنَادِيلَ لِذَلِكَ


Furu': Imaroh masjid adalah pembangunan, renovasi, pemlesteran, tanga-tanga masjid, tiang-tiang, sapu, dan payung untuk berteduh atau untuk membendung air (kolam) disediakan untuk semacam orang lewat. Untuk upah pengurus dan kemaslahatannya, untuk maudzin, imam, untuk listrik dan lampu.

حاشية قليوبي


Fathul ilahi manan:


الموقوف على مصالح المساجد كما في مسئلة السؤال يجوز الصرف فيه البناء والتجصيص المحكم وفي أجرة القيم والمعلم والإمام والحصر والدهن وكذا فيما يرغب المصلين من نحو قهوة وبخور يقدم من ذلك الأهم فالأهم وعليه فيجوز الصرف في مسئلة السؤال لما ذكره السائل اذا فضل من عمارته ولم يكن ثم ما هو أهم منه من المصالح


Barang yang diwakafkan untuk kemaslahatan masjid seperti yang terjadi pada pertanyaan diatas itu boleh di pergunakan untuk membangun, memperkuat masjid dan juga untuk membayar takmir, pengajar, imam, membeli karpet, minyak dan segala sesuatu yang disukai oleh para jama’ah seperti kopi dan rokok. dalam hal ini juga harus mempertimbangkan mana yang lebih penting.

 

فتح الاله المنان ص 150


Mughnil Muhtaaj:


فَرْعٌ تَقَدَّمَ عِمَارَةُ الْمَوْقُوفِ عَلَى حَقِّ الْمَوْقُوفِ عَلَيْهِمْ لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ حِفْظِ الْوَقْفِ وَيُصْرَفُ رِيعُ الْمَوْقُوفِ عَلَى الْمَسْجِدِ وَقْفًا مُطْلَقًا أَوْ عَلَى عِمَارَتِهِ فِي الْبِنَاءِ وَالتَّجْصِيصِ الْمُحْكَمِ وَالسُّلَّمِ وَالْبَوَارِي لِلتَّظْلِيلِ بِهَا وَالْمَكَانِسِ لِيُكْنَسَ بِهَا وَالْمَسَاحِي لِيُنْقَلَ بِهَا التُّرَابُ، وَفِي ظُلَّةٍ تَمْنَعُ إفْسَادَ خَشَبِ الْبَابِ بِمَطَرٍ وَنَحْوِهِ إنْ لَمْ يَضُرَّ بِالْمَارَّةِ، وَفِي أُجْرَةِ قَيِّمٍ لَا مُؤَذِّنٍ وَإِمَامٍ وَحُصْرٍ وَدَهْنٍ؛ لِأَنَّ الْقَيِّمَ يَحْفَظُ الْعِمَارَةَ بِخِلَافِ الْبَاقِي. فَإِنْ كَانَ الْوَقْفُ لِمَصَالِحِ الْمَسْجِدِ صُرِفَ مِنْ رِيعِهِ لِمَنْ ذُكِرَ لَا فِي التَّزْوِيقِ وَالنَّقْشِ، بَلْ لَوْ وَقَفَ عَلَيْهَا لَمْ يَصِحَّ 

[الخطيب الشربيني ,مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ,3/552]


١. رسالة الاماجد فى احكام المسجد ٣١-٣٢


واعلم أن أموال المسجد تنقسم على ثلاثة أقسام (١)، قسم للعمار كالموهوب والمتصدق به له وريع الموقوف عليه ، وقسم للمصالح كالموهوب والمتصدق به لها وكذا ريع الموقوف عليها وربح التجارة وغلة أملاكه وثمن ما يباع من أملاكه وكذا ثمن الموقوف عله عند من جوز بيعه عند البلى والإنكسار وقسم مطلق كالموهوب والمتصدق به له مطلقا وكذا ريع الموقوف عليه مطلقا , وهذا التقسيم مأخوذ من مفهوم أقوالهم فى كتب القفه المعتبرة والمعتمدة ، والفرق بين العمارة والمصالح هو أن ما كان يرجع إلى عين الوقف حفظا وإحكاما كالبناء والترميم والتجصيص للإحكام والسلالم والسوارى والمكاسن وغير ذلك هو العمارة , أن ما كان يرجع إلى جميع ما يكون مصلحة وهذا يشمل العمارة وغيرها من المصالح كالمؤذن والإمام والدهن للسراج هو المصالح(١) والذي اقتضاه افتاء با مخرمة ان هذه الثلاثة لا يجوز للناظر خلطها الا اذا اتحد مصرفها


٢. رسالة الأماجد في بيان أحكام المساجد ص ١٩ – ٢٠


صرف اموال المسجد يصرف ريع الوقف على المسجد وقفا مطلقا او على عمارته في البناء ولو لمنارته وفي التجصيص المحكم والسلم وفي أجرة القيم لا المؤذن والامام والحصر والدهن الا ان كان الوقف لمصالحه فيصرف في ذلك لا في التزويق والنقش ” ، وما ذكرته من انه لا يصرف للمؤذن والامام في الوقف المطلق هو مقتضى ما نقله النووي في الروضة عن البغوي لكنه نقل بعده عن فتاوي الغزالي أنه يصرف لهما ” . وهو الاوجه كما في الوقف على مصالحه .3 ۱۰۳ وقال الشيخ ابن حجر : ولو وقف على مصلحته لم يصرف إلى النقش والتزويق أيضا وتجوز عمارته وشراء الحصر والدهن ونحوهما قال الرافعي والقياس جواز الصرف إلى الإمام والمؤذن أيضا ولو وقف على المسجد مطلقا صح قال البغوي هو كما لو وقف على عمارته وفي الجرجانية حكاية وجهين في جواز الصرف إلى النقش ۱۰ : اقول : وكالموقوف في التفصيل المذكور ما وهب له وما تصدق به عليه فانه على قصد المعطي اخذا من كلامهم : ولو قال خذ هذا واشتر لك به كذا تعين ما لم يرد التبسط أو تدل قرينة حاله عليه . ثم الواجب على الناظر ان يبدأ بعمارة الاهم فالاهم.اهـ


(الفتاوى الفقهية الكبرى جـ ٣ ص ١٥٥ )


وان المسجد حر يملك فلا يجوز التصرف فيه إلا بما فيه مصلحة تعود عليه أو على عموم المسلمين وأما مجرد المصلحة الخاصة فلا يكتفي بها في مثل ذلك فاتضح أنه لا يجوز إلا للمصلحة الخاصة بالمسجد أو العامة لعموم المسلمين ولا تتحقق تلك المصلحة إلا بتلك الشروط فلم نجوزه إلا بها...

Jumat, 08 November 2024

Nasab anak dari perzinahan

Mbah minta dalilnya status anak zina yang lahir sebelum dan sesudah 6 bulan. Matur nuwun. [BAlada YUdisthira].

JAWABAN :

Kitab Nihayatuzzain


Artinya: Ketika ada seseorang menikah dengan perempuan hamil hasil zina, kemudian melahirkan, maka memiliki 4 perincian. Pertama, anak tidak sambung nasabnya dengan suami lahir batin tanpa perlu sumpah li’an, yaitu anak yang lahir kurang dari enam bulan atau lebih dari empat tahun dari masa berkumpulnya suami istri setelah akad. Kedua, anak yang sambung nasabnya dengan suami secara lahir dan memiliki hak waris dan lain-lain. Tetapi suami wajib menafikannya, yaitu anak yang lahir lebih dari enam bulan dan kurang dari empat tahun dan suami tahu bahwa anak tersebut bukan anaknya. Ketiga, anak yang sambung nasabnya dengan suami secara lahir serta memiliki hak waris dan lain-lain, dan suami tidak wajib menafikannya, yaitu ketika suami memiliki dugaan tidak kuat bahwa anak yang lahir adalah anaknya. Keempat, anak yang sambung nasabnya dengan suami dan suami haram menafikannya, yaitu ketika suami memiliki dugaan kuat atau 50% bahwa anak yang lahir adalah anaknya, seperti anak yang lahir antara enam bulan dan empat tahun dari masa berhubungan.... kurang lebih begitu



Status anak yang dilahirkan diperinci sebagai berikut :

1.Jika dilahirkan lebih dari enam bulan dan kurang dari empat tahun setelah akad nikahnya, maka ada dua keadaan

2.Jika ada kemungkinan anak tersebut dari suami, karena ada hubungan badan setelah akad nikah misalnya, maka nasabnya tetap ke suami, berarti berlaku baginya hukum-hukum anak seperti hukum waris dll. Karena itu suami diharamkan meli’an istrinya atau meniadakan nasab anak tersebut darinya (tidak mengakui sebagai anaknya).

3.Jika tidak memungkinkan anak tersebut darinya seperti belum pernah ada hubungan badan semenjak akad nikah hingga melahirkan, maka nasab anak hanya ke istri bahkan wajib bagi suami meli’an dengan meniadakan nasab anak darinya (tidak mengakui sebagai anaknya). Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi hak waris kepada anak.

4.Jika dilahirkan kurang dari enam bulan atau lebih dari empat tahun, maka anak tersebut tidak bisa dinasabkan kepada suami dan tidak wajib bagi suami untuk meli’an istrinya. Bagi anak tidak berhak mendapatkan waris karena tidak ada sebab-sebab yang mendukung hubungan nasab.

Ini berlaku bagi anak yang dilahirkan laki-laki ataupun perempuan. Berarti bapak sebagai wali dalam menikahkan anak perempuannya jika diakui nasabnya dan hakim sebagai walinya jika tidak diakui nasabnya.

Perlu diperhatikan, walaupun status anak tidak bisa dinisbatkan kepada suami, tetap dinyatakan mahram baginya dikarenakan dia menjadi suami ibunya yang melahirkannya (bapak tiri) jika telah berhubungan badan dengan ibu yang melahirkannya.

CATATAN : Perempuan yang hamil di luar nikah jika dinikahkan dengan laki-laki yang berhubungan badan dengannya atau yang lainnya dengan tujuan menutupi aib pelaku atau menjadi ayah dari anak dalam kandungan, maka haram hukumnya dan wajib bagi penguasa membatalkan acara itu. Bagi yang menghalalkan acara itu dengan tujuan tersebut di atas, dihukumi keluar dari agama islam dan dinyatakan murtad (haram dishalati jika meninggal, dan tidak dikubur dimakam islam) karena adanya penipuan nasab dengan berkedok agama sehingga mengakui bayi yang lahir sebagai anaknya padahal diluar nikah, mendapatkan warisan padahal sebenarnya bukan dzawil furudh, menjadi wali nikah jika yang lahir perempuan padahal bukan menjadi ayahnya yang sebenarnya (berarti nikahnya tidak sah), atau anak yang lahir menjadi wali nikah dari keluarga laki-laki yang mengawini ibunya, bersentuhan kulit dengan saudara perempuan laki-laki itu dengan berkeyakinan tidak membatalkan wudlu’ dst.

[3] بغية المسترشدين ص235 – 236

( مسئلة ي ش ) نكح حاملا من الزنا فولدت كاملا كان له أربعة أحوال إما منتف عن الزوج ظاهرا وباطنا من غير ملاعنة وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الإجتماع بعد العقد أو لأكثر من أربع سنين من آخر إمكان الإجتماع وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثا وغيره ظاهرا ويلزم نفيه بأن ولدت لأكثر من الستة وأقل من الأربع السنين وعلم الزوج أو غلب على ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه أو ولدت لدون ستة أشهر من وطئه أو لأكثر من أربع سنين منه أو لأكثر من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضه وثم قرينة بزناها ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة وورد أن تركه كفر وإما لاحق به ظاهرا أيضا لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلبة بأن استبرأها بعد الوطء وولدت به لأكثر من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها إذ الاستبراء أمارة ظاهرة على أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة وورد أنه كفر إن غلب على ظنه أنه منه أو استوى الأمران بأن ولدت لستة أشهر فأكثر إلى أربع سنين من وطئه ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولدت بعده بأقل من الستة بل يلحقه بحكم الفراش كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة فالحاصل أن المولود على فراش الزوج لاحق به مطلقا إن أمكن كونه منه ولا ينتقي منه إلا بللعان والنفي تارة يجب وتارة يحرم وتارة يجوز ولاعبرة بإقرار المرأة بالزنا وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته .

إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 327)

(قوله: لا مخلوقة من ماء زناه) أي لا يحرم نكاح مخلوقه من ماء زناه: إذ لا حرمة لماء الزنا لكن يكره نكاحها خروجا من خلاف الامام أبي حنيفة رضي الله عنه.ومثل المخلوقة من ماء الزنا المخلوقة من ماء استمنائه بغير يد حليلته والمرتضعة بلبن الزنا، وإن أرضعت المرأة بلبن زنا شخص بنتا صغيرة حلت له، ولا يقاس على ذلك المرأة الزانية، فإنها يحرم عليها ولدها بالاجماع.والفرق أن البنت انفصلت من الرجل وهي نطفة قذرة لا يعبأ بها، والولد

انفصل من المرأة وهو إنسان كامل

[4] مصنف ابن أبي شيبة – (ج 8 / ص 374(

(21) مسألة النكاح بغير ولي (1) حدثنا معاذ بن معاذ قال أخبرنا ابن جريح عن سليمان بن موسى عن الزهري عن عروة عن عائشة قالت : قال رسول الله (ص) : (أيما امرأة لم ينكحها الولي أو الولاة فنكاحها باطل – قالها ثلاثا – فإن أصابها فلها مهرها بما أصاب منها ، فإن تشاجروا فإن السلطان ولي من لا ولي له).

[5] بغية المسترشدين ص 249 – 250

( مسئلة ) ملخصة مع زيادة من الإكسير العزيز للشريف محمد بن أحمد عنقاء في حديث الولد للفراش الخ إذا كانت المرأة فراشا لزوجها أو سيدها فأتت بولد من الزنا كان الولد منسوبا لصاحب الفراش لا إلى الزاني فلا يلحقه الولد ولا ينسب إليه ظاهرا ولا باطنا وإن استلحقه ومن هنا يعلم شدة ما اشتهر أنه إذا زنى شخص بإمرأة وأحبلها تزوجها واستلحق الولد فورثه وورثه زاعما سترها وهذا من أشد المنكرات الشنيعة التي لا يسع أحدا السكوت عنها فإنه خرق للشريعة ومنابذة لأحكامها ومن لم يزله مع قدرته بنفسه وماله فهو شيطان فاسق ومداهن منافق وأما فاعله فكاد يخلع ربقة الإسلام لأنه قد أعظم العناد لسيد الأنام مع ما ترتب على فعله من المنكرات والمفاسد منها حرمان الورثة وتوريث من لا شيء له مع تخليد ذلك في البطون بعده ومنها أنه صير ولد الزنا باستلحاقه كابنه في دخوله على محارم الزاني وعدم نقض الوضوء بمسهن أبدا ومنها ولايته وتزويجه نساء الزاني كبناته وأخوته ومن له عليها ولاية من غير مسوغ فيصير نكاحا بلا ولي فهذه أعظم وأشنع إذ يخلد ذلك فيه وفي ذريته ويله فما كفاه أن ارتكب أفحش الكبائر حيث زنى حتى ضم إلى ذلك ما هو أشد حرمة منه وأفحش شناعة وأي ستر وقد جاء شيئا فريا وأحرم الورثة وأبقاه على كرور الملوين وكل من استحل هذا فهو كافر مرتد خارج عن دين الإسلام فيقتل وتحرق جيفته أو تلقى للكلاب وهو صائر إلى لعنة الله وعذابه الكبير فيجب مؤكدا على ولاة الأمور زجرهم عن ذلك وتنكيلهم أشد التنكيل وعقابهم بما يروعهم وقد علم بذلك شدة خطر الزنا وأنه من أكبر الكبائر ( مسئلة ي ) حملت إمرأة وولدت ولم تقر بالزنا لم يلزمها الحد إذ لا يلزم الحد إلا ببينة أو إقرار أو لعان زوج أو علم السيد بالنسبة إلى قنة إذ قد توطأ المرأة بشبهة أو وهي نائمة أو سكرانة بعذر أو مجنونة أو مكرهة أو تستدخل منيا من غير إيلاج ونحو ذلك فتحبل منه ولا يوجب حدا للشبهة فعلم أن كل امرأة حملت وأتت بولد إن أمكن لحوقه بزوجها لحقه ولم ينتف عنه إلا باللعان وإن لم يكن كأن طالت غيبة الزوج بمحل لا يمكن اجتماعهما عادة كان حكم الحمل كالزنا بالنسبة لعدم وجوب العدة وجوز انكاحها وطئها وكالشبهة بالنسبة لدرء الحد والقذف واجتناب سوء الظن نعم إن كانت قليلة الحياء والتقوى كثيرة الخلوة بالأجانب والتزين لهم وتحدث الناس بقذفها عزرها الإمام بما يزجر أمثالها عن هذا الفعل

Secara spesifik sebenarnya ada lima pendapat berbeda tentang hukum menikahi wanita pezina :

1. Mutlak tidak sah

Didukung oleh Ali, Aisyah, dan Bara’ ibn ‘Azib. Serta masing-masing satu riwayat Abu Bakar, Umar, Ibnu Mas’ud, dan Hasan Bashri (al-Hawi al-Kabir 9/492-493, al-Mughni Ibnu Qudamah 7/518, Tafsir al-Alusi 13/326). Pandangan ini didasarkan pada QS. An-Nur: 3, yakni

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

2. Mutlak sah

Didukung oleh asy-Syafi’ie dan madzhabnya (al-Hawi al-Kabir 9/497-498). Kalangan Syafi’iyah berargumen pada ayat 24 QS. An-Nisa:

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ

“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.”

Ayat an-Nisa itu turun setelah menjelaskan wanita-wanita yang haram dinikahi. Dengan demikian selain wanita yang telah disebutkan halal untuk dinikahi, termasuk wanita yang berzina. Dikuatkan dengan sabda Nabi SAW:

لَا يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ

“Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan/menjadikan mahram pada (orang) yang halal” (HR. ibnu Majah dan Baihaqi).

Abu Bakar berkata: Bila seseorang menzinai wanita lain maka tidak haram bagi orang itu untuk menikahinya.

Sedangkan mengenai Surat an-Nur ayat 3, al-Mawardi (al-Hawi al-Kabir 9/494) menyebut ada tiga takwilan terhadap ayat ini:

- Ayat itu turun khusus pada kisah Ummu Mahzul, yakni ketika ada seorang laki-laki meminta izin Rasulullah akan wanita pelacur bernama Ummu Mahzul.

- Ibnu Abbas mengartikan kata ‘yankihu’ dengan ‘bersetubuh’, sehingga maksud ayat tersebut: “Laki-laki yang berzina tidak bersetubuh melainkan (dengan) perempuan yang berzina…dst.”

- Menurut Sa’id ibn Musayyab telah dinasakh oleh QS. An-Nisa ayat 3:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi.”

3. Sah dengan syarat selama menikah tidak berhubungan badan dengan istri sampai dia melahirkan

Didukung oleh Abu Hanifah dalam satu riwayat (asy-Syarh al-Kabir 7/502-503, al-Hawi al-Kabir 9/497-498).

Abu Hanifah berargumen meskipun sah dinikahi, tapi tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan. Termaktub dalam hadits:

لَا تَسْقِ بِمَائِكَ زَرْعَ غَيْرِكَ

“Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [35] orang lain” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

4. Sah dengan syarat menikahnya dilakukan setelah wanita melahirkan (istibra’)

Didukung oleh Rabi’ah, Sufyan Tsauri, Malik, Auza’ie, Ibnu Syubrumah, Abu Yusuf, dan Abu Hanifah dalam riwayat yang lain (al-Hawi al-Kabir 9/497-498, asy-Syarh al-Kabir 7/502-503). Mereka berpendapat wanita hamil zina memiliki iddah sehingga haram dinikahi sebelum selesai iddahnya. Dalil mereka adalah QS. Ath-Thalaq ayat 4:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Dan perempuan-perempuan yang hamil itu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan.”

Disebutkan juga dalam hadits:

أَلَا لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلَا غَيْرَ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ

“Ingatlah, tidak disetubuhi wanita hamil hingga ia melahirkan dan tidak juga pada wanita yang tidak hamil sampai satu kali haidh” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ad-Darimi).

5. Sah dengan syarat menikahnya dilakukan setelah wanita istibra’ plus telah bertaubat

Didukung oleh Abu Ubaidah, Qatadah, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq (al-Hawi al-Kabir 9/492-493, Tafsir Ibnu Katsir 6/9-10).

Ibnu Qudamah (Syarhu Kabir 7/504) menjelaskan bahwa sesuai bunyi terakhir ayat 3 surat An-Nur, ‘wa hurrima dzalika ‘alal mukminin’, keharaman menikahi pezina diperuntukkan bagi orang mukmin (yang sempurna). Sehingga ketika telah bertaubat dari zina leburlah dosa, kembali menjadi bagian dari orang-orang mukmin, dan hukum haram baru bisa terhapus. Sebagaimana hadits:

التائب من الذنب كمن لا ذنب له

“Seorang yang telah bertaubat dari dosa itu layaknya tidak ada dosa padanya” (HR. Hakim, Ibnu Majah, Thabrani, dan Baihaqi).

Ibnu Umar pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan, apakah boleh dia menikahinya ? Jawab Ibnu Umar, “Jika keduanya telah bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan (yakni beramal shalih)” (Al-Muhalla 9/ 475).

Dalam hal ini tidak ada perbedaan apakah wanita tersebut dinikahi oleh laki-laki yang menzinai ataupun orang lain. Dari sudut pandang Syafi’iyah karena hamil hasil zina tidak ada kehormatan apapun yang perlu dijaga seperti percampuran nasab. Dari perspektif ulama lainnya karena telah disyaratkan tidak adanya hubungan badan. Tersebut dalam Bughyah :

(مسألة : ي ش) : يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزاني وغيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة.

الكتاب : بغية المسترشدين ص419

Juga dalam Mughni Ibnu Qudamah :

فصل : وإذا وجد الشرطان حل نكاحها للزاني وغيره

[ المغني - ابن قدامة ] ج7 ص518


Jadi jika melihat kembali pada kasus awal, apakah nikahnya harus diulang ? Maka jawabannya jelas tidak. Sebab menurut Syafi’iyah dan satu riwayat Abu Hanifah nikahnya telah sah sejak awal. Wallahu a’lam. [Mbah Jenggot].

 

 

 

Dokumen Terkait

1085. MEMBACA YAASIIN DAPAT MENGHAPUS DOSA-DOSA KECIL

1099. MEMBACA AL-QUR'AN DI KUBURAN

1045. NAFSU SEBAGAI AWAL PETAKA DAN BENCANA

1111. HADIST : PERINGATAN BAGI YANG BELAJAR HADITS DIGITAL

1114. HIMAH : MUTIARA SYEIKH ABDUL QADIR AL JAILANI

1110. ORANG YANG HITAM JIDATNYA

1076. LAIN-LAIN : WALI ABDAL

Prev

0611. AKHLAQ : MENOLONG SAUDARA YANG KESUSAHAN

Next

614.LAIN-LAIN:Mengapa mereka merasa paling benar

Cari pertanyaan..

Ahlussunnah Wal Jama'ah

PISS-KTB

Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB. Sumber informasi tanya-jawab islam sesuai pemahaman ulama salaf ahlus sunnah wal jama'ah


bawah-kaos-2

Dokumen Popular

4176. HADITS QUDSY : MAN LAM YASYKUR 'ALA NA'MA`I ...

4175. MIMPI BERJUMPA ROSULULLOH SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM

4177. NAHWU : FAIDAH IDHROB DAN MUDHOF

5269. KAJIAN KITAB MATAN TANQIHUL QOUL [Bab 5 : Keutamaan Iman]

5268. KAJIAN KITAB MATAN TANQIHUL QOUL [Bab 4 : Keutamaan Bersholawat Kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wassalam]

KATEGORI

Fiqih Shalat 1069

Aqidah 856

Fiqih Thoharoh 605

Tashawuf 556

Fiqih Nikah 415

Keluarga 362

Dzikir Doa 353

Fiqih Wanita 337

Fiqih Muamalah 328

Kajian Kitab 312

Show more (+45)

Download

Download Files



Copyright © 2016 : PISS-KTB

Supported By: Islamuna Search


Sumber: https://www.piss-ktb.com/2011/11/613-fikih-status-anak-zina.html?m=1

Terimakasih, tetap mencantumkan sumber kutipan.

Selasa, 05 November 2024

Kitab Al Jamal ala syarhil minhaj

 https://maktabahazzaen.my.id/2020/10/31/%d8%ad%d8%a7%d8%b4%d9%8a%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%85%d9%84-%d8%b9%d9%84%d9%89-%d8%b4%d8%b1%d8%ad-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%86%d9%87%d8%ac/

Maktanah azzaen kumpulan pdf kitab

 https://maktabahazzaen.my.id/tentang/

Mayit akan disiksa karena air mata Keluarganya, benarkah?

 Mayit akan disiksa karena air mata Keluarganya, benarkah?


Tidak benar, ini faham yg salah akibat dari membaca hadits tanpa syarah atau memahami dengan otak sendiri tanpa Guru. Syaikh Athiyyah Al-Ujhuri (Guru dari Imam Syarqowi) berkata , yg artinya : "Mayit tidak akan disiksa dengan sebab diratapi atau ditangisi atau lainnya, kecuali jika mayit berpesan berwasiat jika ia mati agar ditangisi dan yg diwasiatipun menjalankan wasiat tersebut."


Sumber : Hasyiyah Al-Ujhuri Syarah Fathul Qorib Al-Mujib - Syaikh 'Athiyyah bin 'Athiyyah Al-Ujhuriy Asy-Syafi'i

hukum membuat patung dengan tujuan edukasi mengenang jasa

 [5/11 19.50] Dudu Durahman: Assalamualaikum 

Izin bertanya,...🙏


Bagaimana hukum membuat patung dengan tujuan edukasi mengenang jasa?


Sperti patung pahlawan misalnya,Syukron...🙏

[5/11 19.50] Dudu Durahman: JAWABAN:


Hukumnya adalah haram secara ijma' Ulama' membuat patung dan minta dibuatkan patung seperti deskripsi di atas yang tujuannya untuk hiasan dan mengenang para Pahlawan bukan tujuan untuk disembah, kecuali membuat boneka mainan Anak Perempuan.


REFERENSI:


روائع البيان في تفسير آيات الأحكام، الجزء ٢ الصحفة ٤١١


ما يحرم من الصور والتماثيل

يحرم من الصور والتماثيل ما يأتي ؛


أولاً: التماثيل المجسّمة إذا كانت لذي روح من إنسان أو حيوان يحرم بالإجماع للحديث الشريف: «إن الملائكة لا تدخل بيتاً فيه كلب، ولا صورة، ولا تماثيل، ولا جنب٠


ثانياً: الصورة المصوّرة باليد لذي روح: حرام بالاتفاق لقوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ: «إنَّ أصْحَابَ هذِه الصُّوَرِ يَومَ القِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ، فيُقَالُ لهمْ أحْيُوا ما خَلَقْتُمْ » ( رواه البخاري) ولحديث: «من صوّر صورة أُمر أن ينفخ فيها الروح يوم القيامة وليس بنافخ»٠


ثالثاً: الصورة إذا كانت كاملة الخلق بحيث لا ينقصها إلا نفخ الروح حرام كذلك بالاتفاق لقوله عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام ُ في الحديث السابق: «أُمِرَ أن ينفخ فيها الروح وليس بنافخ»٠

Artinya : Kriteria Gambar atau patung yang haram, sebagai berikut :


1. Patung makhluk yang bernyawa, seperti patung Manusia ataupun Hewan hukunya haram menurut Ijma'' Ulama' berdasarkan hadits Rosululloh yang menyatakan bahwa "Malaikat tidak masuk kedalam Rumah yang di dalamnya terdapat Anjing, Gambar, Patung, maupun Orang junub".

 

2. Lukisan makhluk yang bernyawa, hukumnya haram menurut kemufakatan Ulama', hal ini berdasar hadits Rosululloh yang menyatakan : "Para Pelukis makhluk yang bernyawa akan di adzab di hari kiamat, dikatakan kepada mereka : "Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan !". Dan juga berdasar hadits lainnya yang menyatakan : "Barang siapa yang menggambar (makhluk bernyawa) maka Dia diperintahkan untuk memberinya nyawa, namun Dia tidak mampu memberi nyawa."


3. Gambarnya badan sempurna sekiranya kalau makhluk bernyawa tinggal memasukkan nyawa saja. Hal ini hukumnya haram menurut kemufakatan Ulama' berdasar hadits : "Barang siapa yang menggambar (makhluk bernyawa) maka Dia diperintahkan untuk memberinya nyawa, namun Dia tidak mampu memberi nyawa."


روائع البيان تفسير آيات الأحكام، الجزء ٢ الصحفة ٤١٣


ح - ويستثنى من التحريم (لعب البنات) لما ثبت عن عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنْها أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَزُفَّتْ إِلَيْهِ وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ ، وَلُعَبُهَا مَعَهَا ، وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ٠ رواه مسلم ١٤٢٢


وروي عنها أنها قالت: «كُنْتُ ألْعَبُ بالبَنَاتِ عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وكانَ لي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، فَكانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ منه، فيُسَرِّبُهُنَّ إلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي.٠ رواه البخاري ٧١٣٠


قال العلماء: وإنما أبيحت لعب البنات للضرورة إلى ذلك، وحاجة البنات حتى يتدربن على تربية أولادهنّ، ثم إنه لا بقاء لذلك، ومثله ما يصنع من الحلاوة أو العجين لا بقاء له، فرُخّص في ذلك والله أعلم٠


Artinya: Adapun Boneka mainan Anak-anak hukumnya tidak haram sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Sayyidatina Aisyah yang menyatakan bahwasanya Nabi menikah dengannya, saat Dia umur 7 tahun, kemudian Nabi membangun Rumah tangga dengannya saat berumur 9 tahun dan diumur itu Dia masih senang bermain boneka, dan Nabi meninggal ketika Dia berumur 18 tahun. Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Sayyidatina Aisyah, Dia berkata ; "Aku bermain boneka disisi Nabi, Aku memiliki beberapa teman yang biasa bermain boneka denganku, lalu ketika Rosululloh masuk kamar, beliau merapikannya (memasukkan ke kantong boneka) lalu saat Aku ada dikamar Beliau mengeluarkannya / memberikannya kepadaku, sehingga Aku bisa bermain boneka". Para Ulama' berpendapat : bermain boneka itu diperbolehkan karena kebutuhan, tujuannya agar Anak-anak Wanita bisa berlatih untuk merawat calon Anak-anak mereka nanti, dan juga karena boneka tersebut tidak bertahan lama (beda dengan patung). Begitu juga boleh hukumnya membuat manisan (permen,) atau roti (makan yang berbentuk hewan misalnya) karena tidak bertahan lama, sehingga hal itu mendapat rukhsoh (keringanan hukum)

Hukum Suami menolak ajakan istri

 [5/11 20.48] Dudu Durahman: Assalamu alaikum. Izin bertanya🙏


Bagaimana hukumnya ; suami menolak ajakan istri untuk bersetubuh ?...jazakallooh

[5/11 20.48] Dudu Durahman: JAWABAN :

Ukuran kebahagiaan sebuah keluarga juga bisa dilihat dari hubungan di atas kasur (bkn kuantitas tapi kualitasnya). Jika salah satunya malas diajak "perang" ada sebab-sebab yang menjadi penyebabnya, bisa jadi karena jengkel, atau uang blnja krg atau sebab lain, misal kecapekan (biasanya kalau cuman capek ajja pasti mau), dan ada masalah yang membuat kita "senang" hingga enggan melakukannya. Kewajiban seorang suami adalah memberikan nafkah lahir-bathin, jika memang sudah diberikan tapi masih saja kurang ya sudah gugur kewajiban suami, kalau bicara dosa dan tidak, mari kita lihat batasan kewajiban suami mengenai nafkah batin yang memang terjadi khilaf :

·Menurut satu pendapat Syafi’iyyah seumur hidup satu sekali. Selebihnya disunnahkan empat hari sekali

·Menurut Hanafiyyah wajib tiap empat bulan sekali.

·Menurut Hanabilah wajib empat bulan sekali bila tidak ada udzur

·Menurut pendapat rajih dari Malikiyyah wajib tiap empat hari sekali bila ada permintaan dari istri. 



R E F E R E N S I

1. Hawasyi As-Syarwany vol. VII hal. 183

2. Mughnil Muhtaj vol. IV hal. 414

3. Raddul Mukhtar vol. III hal. 202 4. Al-Fawakihud Dawany vol. V hal. 131

5. Mathalibu Ulin Nuha vol. V hal. 265

6. Fathul Bari vol. IX hal. 373

4. الفواكه الدواني الجزء الخامس صحـ 131

وأما الوطء فقد قال صاحب القبس : الوطء واجب على الزوج للمرأة عند مالك إذا انتفى العذر , وقال ابن حنبل والأجهوري : يجب على الرجل وطء زوجته ويقضى عليه به حيث تضررت المرأة بتركه وقدر عليه الزوج , لأن الإنسان لا يكلف ما لا يطيقه , والراجح أنها إذا شكت قلة الوطء يقضى لها في كل أربع ليال بليلة , كما أن الصحيح إذا شكا الزوج من قلة الجماع أن يقضى له عليها بما تطيقه كالأجير , خلافا لمن قال : يقضى بأربع مرات في اليوم والليلة لاختلاف أحوال الناس فقد لا تطيق المرأة ذلك

5. مطالب أولي النهى الجزء الخامس صحـ 265

فصل ( ويلزمه ) أي : الزوج ( وطء ) زوجته مسلمة كانت أو كافرة , حرة أو أمة بطلبها ( في كل ثلث سنة مرة إن قدر ) على الوطء نصا ; لأنه تعالى قدره في أربعة أشهر في حق المولى , وكذا في حق غيره ; لأن اليمين لا توجب ما حلف عليه فدل أن الوطء واجب بدونها ( و ) يلزمه ( مبيت ) في المضجع على ما ذكره في " نظم المفردات " و " الإقناع " واستدل عليه الشيخ تقي الدين بمواضع من كلامهم , وذكر في الفروع نصوصا تقتضيه ( بطلب عند ) زوجة ( حرة ليلة من أربع ) ليال إن لم يكن عذر ( كأنها واحدة )

6. فتح البارئ الجزء التاسع صحـ 373


واختلف العلماء فيمن كف عن جماع زوجته فقال مالك إن كان بغير ضرورة ألزم به أو يفرق بينهما ونحوه عن أحمد والمشهور عند الشافعية أنه لا يجب عليه وقيل يجب مرة وعن بعض السلف في أربع ليلة وعن بعضهم في كل طهر مرة.

Puasanya orang kesurupan

 Assalamualaikum ustadz Maaf ustadz mau tanya..


Bagaimana hukumnya puasanya orang yang kesurupan??


Terima kasih ustadz

JAWABAN:


Ada 2 (dua) pendapat:


1) Menurut ulama yang menganggap sama dengan penyakit gila, maka dengan sebab kesurupannya langsung batal puasanya.


2) Menurut ulama yang menganggapnya seperti pingsan, maka bisa batal jika kesurupannya mulai fajar subuh sampai maghrib. Jika ada sadarnya, maka tidak batal


REFERENSI:


الباجوري، الجزء ١ الصحفة ٦٣٠


ومتى جن الصائم ولو لحظة من النهار بطل صومه، وإذا أغمي عليه أو سكر فلا يضر، إلا إذا استغرق جميع النهار، فإن أفاق ولو لحظة من النهار صح صوم، ولا يضر النوم ولو استغرق جميع النهار حيث نوى قبل النوم


Artinya : Dan sewaktu-waktu orang yang berpuasa menjadi gila -walaupun hanya sesaat- di siang hari puasa, maka puasanya menjadi batal. Adapun jika seseorang pingsan atau mabuk, maka itu tidak apa-apa (tidak membuat puasanya batal) kecuali jika dua perkara tersebut terjadi sepanjang puasa (yakni mulai subuh sampai mghrib, maka batal puasanya). Maka dari itu jika dia sadar di siang hari puasa walaupun hanya sesaat, maka puasanya sah. Adapun tidur maka tidaklah membahayakan puasanya, walaupun dia tidur sepanjang waktu puasa, asalkan dia sudah niat untuk berpuasa sebelum tidur.




تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، الجزء ٧ الصحفة ٣٤٥


قَوْلُ الْمَتْنِ: جُنُونًا) وَالْإِصْرَاعُ نَوْعٌ مِنْ الْجُنُونِ كَمَا قَالَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ نِهَايَةٌ وَمُغْنِي أَيْ فَيَثْبُتُ بِهِ الْخِيَارُ ع ش عِبَارَةُ سم يَنْبَغِي أَنَّ مِنْهُ أَوْ فِي مَعْنَاهُ الصَّرْعُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّ كَوْنَ أَحَدِهِمَا مَسْحُورًا كَذَلِكَ أَيْ كَالْجُنُونِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُلْحَقَ بِالْإِغْمَاءِ اهـ وَلَعَلَّ الْأَقْرَبَ هُوَ الِاحْتِمَالُ الْأَوَّلُ


Artinya : (Perkataan matan : atau penyakit gila) : Adapun penyakit ayan atau kesurupan, maka termasuk salah satu macam dari penyakit gila, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama' dalam naskah Nihayah dan Mughni. Yakni sehingga penyakit ayan bisa menetapkan hak khiyar sesuai keterangan syekh Ali Sibromalisi. Adapun naskah syekh Ibnu Qosim Al 'Abbadi: Sudah selayaknya yang termasuk dalam kategori penyakit gila atau yang semakna dengannya : adalah ayan/kesurupan. Dan boleh jadi bahwa salah satu dari macamnya berupa orang yang terkena sihir juga dihukumi seperti orang gila. Tapi bisa juga dia dihukumi seperti orang yang pingsan. Dan kayaknya yang lebih bisa diterima alasan qiyasnya : adalah pertimbangan yang pertama yaitu dihukumi seperti orang gila bukan orang pingsan.



الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي، الجزء ١ الصحفة ٥٣


وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قُلْت لِأَبِي : إنَّ أَقْوَامًا يَقُولُونَ : إنَّ الْجِنِّيَّ لَا يَدْخُلُ فِي بَدَنِ الْمَصْرُوعِ ، فَقَالَ : يَا بُنَيَّ يَكْذِبُونَ ، هَذَا ‏يَتَكَلَّمُ عَلَى لِسَانِهِ‎ .‎وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ أَمْرٌ مَشْهُورٌ ، فَإِنَّهُ يُصْرَعُ الرَّجُلُ فَيَتَكَلَّمُ بِلِسَانٍ لَا يُعْرَفُ مَعْنَاهُ ، وَيُضْرَبُ عَلَى بَدَنِهِ ضَرْبًا عَظِيمًا لَوْ ضُرِبَ بِهِ جَمَلٌ لَأَثَّرَ بِهِ أَثَرًا ‏عَظِيمًا‎٠ وَالْمَصْرُوعُ مَعَ هَذَا لَا يُحِسُّ بِالضَّرْبِ ، وَلَا بِالْكَلَامِ الَّذِي يَقُولُهُ‎ وَقَدْ يُجَرُّ الْمَصْرُوعُ وَغَيْرُ الْمَصْرُوعِ ، وَيَجُرُّ الْبِسَاطُ الَّذِي يَجْلِسُ ‏عَلَيْهِ‎ .‎‏ وَيُحَوِّلُ آلَاتٍ ، وَيَنْقُلُ مِنْ مَكَان إلَى مَكَان، وَيَجْرِي غَيْرُ ذَلِكَ مِنْ الْأُمُورِ مَنْ شَاهَدَهَا‎ .‎‏ أَفَادَتْهُ عِلْمًا ضَرُورِيًّا ، بِأَنَّ النَّاطِقَ عَلَى لِسَانِ ‏الْإِنْسِيِّ‎ .‎وَالْمُحَرِّكَ لِهَذِهِ الْأَجْسَامِ جِنْسٌ آخَرُ غَيْرُ الْإِنْسَانِ


Artinya : Abdullah putra Imam Ahmad bin hambal mengatakan ; "Aku berkata kepada ayahku bahwasannya sesungguhnya beberapa kaum berkata ; Sesungguhnya jin tidak bisa memasuki badan orang yang kesurupan". Maka ayahku (Imam Ahmad) berkata ; "Wahai anakku mereka telah berbohong." Orang telah berbicara dengan bahasa daerahnya, dan apa yang dikatakannya ini adalah perkara yang sudah ketahui banyak orang : Bahwa sesungguhnya orang yang kesurupan dia bisa berbicara dengan bahasa yang dia tidak mengetahui maknanya, dan terkadang ia dipukul dengan pukulan yang sangat kuat yang jika dipukulkan kepada seekor unta maka akan memberi bekas yang sangat besar. Akan tetapi anehnya orang yang kesurupan tersebut sama sekali tidak merasakan pukulan tersebut, begitu juga ia tidak memahami perkataan yang ia ucapkan. Bahkan terkadang orang yang kesurupan dan yang tidak kesurupan dapat ditarik begitu juga dengan karpet yang iya duduki. Juga dapat menggeser alat-alat dan memindahkannya dari satu tempat ke tempat yang lain dan perkara-perkara lain yang masih banyak lagi, yanga mana barang siapa melihatnya secara langsung, maka akan menghasilkan satu kesimpulan yang tidak bisa di bantah oleh siapapun, bahwa orang yang berbicara dengan lidah manusia tersebut dan yang menggerakkan tubuhnya adalah satu jenis makhluk yang bukan manusia.

Senin, 04 November 2024

KAJIAN FIQH WANITA BAG 1 BAB MANDI

 KAJIAN FIQH WANITA BAG 1

BAB MANDI

HAL HAL YG MEWAJIBKAN MANDI


          Perkara yang menyebabkan kewajiban mandi itu sebanyak ada enam perkara, dua perkara berlaku bagi kaum wanita dan berlaku pula bagi kaum lelaki, ialah sebagai berikut:

1. Mandi jenabat, sebab bersetubuh, walaupun tidak keluar mani, atau keluar mani, walaupun tidak bersetubuh.

2. Kewajiban mandi disebabkan meninggal dunia, kecuali mati syahid, yaitu mati di medan pertempuran berperang melawan kafir harbi, dan mati karena uzur. Seperti mati terbakar dan sejenisnya.

Dan yang tiga perkara berlaku hanya untuk kaum wanita yaitu sebagai berikut:

3. Sebab mengeluarkan darah haid

4. Sebab mengeluarkan darah nifas

5. Sebab melahirkan anak, meskipun masih berupa segumpal darah, atau segumpal daging, yakni belum membentuk rupa manusia (Fathul Qaribul Mujib: 6, Husnul Mathalib: 67 dan Kasyifatus Saja: 24). 

 

Beberapa-Masalah Penting


1. Apabila ada seorang wanita selesai bersetubuh dengan suaminya. Setelah mandi, ia keluar dari kemaluannya berupa mani suaminya. Apakah wajib mengulang mandinya atau tidak? Jawabannya: Apabila wanita itu ketika disetubuhi suaminya dalam keadaan syahwat, maka ia diwajibkan untuk mandi lagi, kareana mani yang keluar adalah campuran antara air maninya sendiri dengan mani suaminya. Akan tetapi apabila wanita itu ketika disetubuhi tidak bersyahwat, misalnya sedang tidur nyenyak, maka ia tidak diwajibkan mandi lagi, karena yang keluar itu hanya murni maninya suami (Kasyifatus Saja: 22).


2. Apabila seorang wanita di dalam mengeluarkan darah haid terputus-putus. Apakah ia diwajibkan mandi haid? Jawabannya: Apabila dalam mengeluarkan darah belum mencapai cukup 24 jam, maka ia belum diwajibkan mandi. Dan apabila ia mengeluarkan darah sudah cukup 24 jam, maka sewaktu-waktu darahnya berhenti, ia sudah dihukumi suci dari haid, yakni sudah diwajibkan mandi, shalat, puasa serta sudah halal disetubuhi suaminya. Kemudian kalau ternyata darah- nya keluar lagi, maka kenyataan mandi, shalat dan puasanya tidak sah, karena sebenarnya ia masih didalamnya masa haid. Oleh karena itu nantinya ia diwajibkan mengqadla puasa yang dikerjakan didalam berhentinya itu. Ia tidak berdosa melakukan persetubuhan di dalam masa berhentinya itu, walaupun sejatinya masih di dalam masa haid, karena hanya melihat pada dhahirnya saja. Seterusnya, sewaktu-waktu darahnya berhenti lagi, maka ia dihukumi suci lagi. Jadi diwajibkan macam-macam lagi. Dan apabila darahnya kembali keluar lagi, maka kenyataannya ia masih di dalam masa haid. Demikian seterusnya, selama belum lebih dari 15 hari dan 15 malam (Al-Jamal ‘Ala Syarhil Minhaj: 1/226).


Fardlu-Fardlunya Mandi

          Bahwa fardlu-fardlu atau rukun-rukunnya mandi wajib atau sunah jumlahnya sebanyak tiga perkara ialah:


1. Niat di dalam hati untuk menghilangkan janabat, haid, nifas atau wiladah. Dengan mengguyurkan air ke sebagian anggota badan, misalnya wajah atau yang lain. 

2. Meratakan air ke seluruh kulit tubuh dan rambut. Untuk wanita yang rambutnya digelung atau di pocong, jika tidak bisa sampai dan merata air kedalamnya, maka wajib mengurai rambutnya. Kemudian ketika meratakan air ke seluruh lekuk-lekuk tubuh, wanita yang mandi tidak cukup dengan posisi berdiri, tetapi harus duduk sekira air merata ke seluruh tubuh dan rambut.

3. Menghilangkan najis dengan air, bila dalam tubuhnya terdapat najis yang nyata. Keterangan ini yang dianggap baik oleh Imam Rafi’i. Oleh karena itu tidak cukup membasuh satu kali untuk menghilangkan hadas dan sekaligus najis, kecuali najis hukmiyah (Ri’ayatal Himmat: 1/151-152).


Syarat-Syarat Sah Wudlu dan Mandi


       Bahwa syarat-syarat sahnya wudlu dan mandi itu jumlahnya ada sembilan perkara, yaitu:


1. Islam. Artinya mandi seseorang dianggap sah, jika ia beragama Islam (mengucapkan dua kalimat Syahadat dengan memenuhi syarat-syaratnya).

2. Tamyiz. Artinya mandi seseorang dianggap sah, jika ia berakal sehat. Adapun Tamyiz yang dimaksud, seseorang yang dapat membedakan antara malam dengan siang, atas dengan bawah, arah mata ank a: barat- timur, utara-selatan dan antara suci dengan najis.

3. Mengetahui pekerjaan yang fardlu dalam wudlu dan mandi. Yaitu fardlu wudlu ada enam perkara dan fardlunya mandi ada tiga perkara.

4. Air yang digunakan untuk wudlu dan mandi harus dengan air yang. Suci dan mensucikan yang lain.

5. Tidak ada sesuatu pada lahirnya yang menghalangi sampainya air ke seluruh kulit tubuh anggota wudlu maupun mandi.

6. Kekal niatnya sampai pada akhir sempurnanya wudlu dan mandi.

7. Tidak ada sesuatu akibat yang dapat merubahkan sifat air sampai kulit tubuh anggota wudlu atau anggota mandi.

8. Mengalir airnya hingga sampai ke seluruh ubuh anggota wudlu maupun anggota mandi.

9. Sudah berhenti dari darah haid, nifas maupun wiladat.


     Wudlu dan mandi bagi orang yang kekal hadasnya (Daaimul Hadats), syaratnya harus ditambah lagi dua perkara yaitu:


10. Wudlu atau mandi harus sesudah masuk waktu shalat.

11. Dan harus segera dilaksanakan wudlu dan mandi dengan segera.

    (Minhajul Qawim: 14 dan Ri’ayatal Himmah: 1/147-148).)

Minggu, 03 November 2024

Aqiqah anak laki²

 JAWABAN :

Wa'alaikumsalam. Orang yang hanya mampu menyembelih seekor kambing dengan niat mengaqiqahi anak laiki-lakinya karena masalah financial diatas sejatinya telah mendapatkan kesunahan aqiqah dan telah gugur tuntutan AQIQAH pada dirinya

( و ) لكن ( الأكمل شاتان ) متساويتان ( للذكر ) ويحصل بالواحدة فيه أصل السنة

Yang sempurna adalah dua kambing untuk anak laki-laki namun bila ia menyembelih seekor kambing maka juga telah ia dapatkan kesunahan beraqiqah. [ Minhaj al-Qawiim I/634 ].

ويتأدى أصل السنة عن الغلام بشاة لأنه صلى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين كبشا

Dan telah tergapai kesunahan aqiqah saat ia enyembelih seekor kambing untuk anak laki-lakinya karena Baginda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam mengaqiqahi Hasan dan Husen dengan menggunakan seekor domba. [ Iqnaa Li as-syarbiny II/549 ].

Dan tidak disyariatkan baginya mengulangi/menyempurnakan aqiqahnya yang menurut syara' telah terhasilkan kesunahannya, bila ia menyembelih kambing lagi ditahun berikutnya namanya bukan lagi aqiqah tapi sedekah/hadiah biasa. Wallaahu A'lamu Bis Showaab

لجنة بحث المسائل

Menurut fatwa Imam Suyuthi, AQIQAH tidak diulang kedua kalinya. Berikut ta'birnya:

قلت : وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلّم عق عن نفسه بعد النبوة مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته والعقيقة لا تعاد مرة ثانية ، فيجعل ذلك على أن الذي فعله النبي صلى الله عليه وسلّم إظهار للشكر على إيجاد الله إياه رحمة للعالمين وتشريع لأمته كما كان يصلي على نفسه لذلك فيستحب لنا أيضاً إظهار الشكر بمولده بالاجتماع وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات:) الحاوي للفتاوي كتاب الصداق صفحة رقم 181(

Menururt hematku, sesungguhnya telah nampak padaku untuk mengeluarkan dalil lain bagi Maulid, yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Baihaqy dari Anas, bahwa Nabi saw menyembelih ‘aqiqah buat dirinya setelah kenabian, padahal ada hadits yang mengatakan kakek beliau, Abdul Mutthalib, telah meng’aqiqah pada hari ketujuh kelahirannya. ‘Aqiqah tidak diulang kedua kali. Berarti perbuatan beliau menyembelih yang kedua merupakan menampakkan rasa syukur atas diciptakannya beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam sekaligus menjelaskan syari’at (Maulid) bagi umatnya, sama alasannya mengapa beliau berselawat atas dirinya sendiri. Karena itulah, sunat bagi kita pula menampakkan syukur atas kelahirannya dengan berkumpul, menyedekahkan makanan dan lain-lain yang termasuk dalam Qurbah dan mewujudkan kegembiraan. (Al-Hawy lil Fatawa kitab shidaq hal.181).

Menurut Zaid bin Aslam kedua kambing disembelih bersamaan. Penyembelihan kambing yang satu tidak diundur dari kambing yang lain. Ta'birnya Kitab Fat-hul Bari 15/396 :

قال داود بن قيس رواية عن عمرو " سألت زيد بن أسلم عن قوله مكافئتان فقال : متشابهتان تذبحان جميعا أي لا يؤخر ذبح إحداهما عن الأخرى

Sabtu, 02 November 2024

Sholat qodho Sirri atau jahri


 Assalamualaikum

Izin bertanya,...

Kalau kita ngodho sholat dhuhur dikerjakan pas malam misalnya,apakah masih disunahkan membaca dg Sirri/jahr,...?

Begitu juga sebaliknya ketika sholat Maghrib yg diqhodho pas waktu siang🙏

Kalo sholat di waktu sholat jahr, maka jahr

Kalo sholat di waktu sir, maka sir

Contoh qodho' sholat Isya di kerjakan di waktu Zuhur, maka sir, referensi ada di kitab Umdatus Salik

Bujaeromi

Kutek pewarna

 Asalamualaikum ust mau nanya hukumnya memakai kutek pewarna kuku bagi laki-laki dan wanita dan jenis kutek yang ketika kita memakainya wudhu kita sah

Maksutnya airnya sampai ke kuku tidak terhalang dengan kutek tsb?


Waalaikumussalam 


Hukum Memakai Henna dan Kuteks (cat kuku))


Deskripsi:

Henna adalah tato temporer (tato yang tidak permanen) yang biasa dibubuhkan di beberapa bagian tubuh, semisal lengan atau kuku.

Dari beragam warna yang menarik dan berbagai goresan seni yang kreatif nan indah , kini kehadirannya diminati setiap wanita mulai dari yang sudah tua remaja hingga anak-anak. Baik untuk acara resepsi pernikahan, tunangan maupun hari-hari biasa untuk mempercantik tampilannya. Selain Henna mereka juga memakai kutek (cat kuku) yang beraneka warna.


Pertanyaan:

Sebenarnya apa hukum memakai henna maupun kutek , dan boleh kah semua kalangan wanita memakainya?


Jawaban:

Hukum memakai henna pada telapak tangan sampai pergelangan secara merata (تعميم) diperinci:

– Untuk wanita yang hendak berihrom sunah baik sudah bersuami atau belum.

– Untuk selain wanita yang hendak berihrom diperinci:

1. Wanita yang sudah bersuami hukumnya sunah memakai henna baik dengan izin suami atau tidak,

2. Wanita yang sedang ber ihdad (berkabung sebab kematian suaminya) harom,

3. Wanita yang belum bersuami makruh.

 

Hukum mewarnai kuku (تطريف الاصابع) baik memakai kutek/pewarna kuku/pacar, maupun henna diperinci:

– Untuk wanita yang bersuami dan dapat izin dari suami sunah,

– Untuk wanita yang belum bersuami atau yang sudah bersuami tapi tidak dapat izin harom.

Akan tetapi menurut imam Ibnu Rif’ah dan imam Malik keharoman ini terkhusus dengan pewarna kuku hitam, adapun selain hitam maka boleh.


Catatan:

– Bagi laki-laki harom memakai henna sebab tasabuh binnisa (menyerupai wanita), namun jika adanya udzur semisal untuk berobat yang dimana tidak ada obat lain selain sejenis henna maka diperbolehkan.

– Untuk pemakaian kutek (pewarna kuku) yang terdapat jirim (bentuk) yang sekira bisa rontok ketika di kerik menggunakan kuku, maka wajib dihilangkan ketika hendak berwudhu atau mandi wajib. Sebab dapat menghalangi sampainya air keanggota badan sehingga mencegah keabsahan wudhu maupun mandi wajib, dan untuk kutek (pewarna kuku) yang tidak berjirim tidak wajib dihilangkan sebab hanya berupa warna saja dan tidak sampai mencegah sampainya air keanggota badan.


Referensi:


حاشية إعانة الطالبين ج2 ص387

وعبارة الكردي: قوله: ويحرم الحناء للرجل. خرج به المرأة، ففيها تفصيل، فإن كان لاحرام استحب لها سواء كانت مزوجة.أو غير مزوجة، شابة أو عجوزا وإذا اختضبت عمت اليدين بالخضاب.وأما المحدة: فيحرم عليها، والخنثى كالرجل.ويسن لغير المحرمة إن كانت حليلة وإلا كره.ولا يسن لها نقش وتسويد وتطريف وتحمير وجنة، بل يحرم واحد من هذه على خلية ومن لم يأذن لها حليلها.


 سعيد باعشن ,شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم ,page 90

و) أن تخصب (المزوجة يديها، ورجليها بالحناء) إن كان حليلها يحبه، وأن تبدأ في كل ذلك باليمنى، أما غيرها .. فلا يسن لها ذلك، بل يحرم عليها الخضب بسواد، وتطريف الأصابع وتحمير الوجنة والنقش إن كانت غير مفترشة، أو لم يأذن لها حليلها، وكذا يحرم عليها وصل شعرها بنجس أو شعر آدمي مطلقاً، وبطاهر إن لم تكن فراشاً، أو لم يأذن لها، والوشر وهو: تحديد أطراف الأسنان وتفريقها، كالوصل بطاهر غير شعر آدمي.


 النووي ,المجموع شرح المهذب ,3/140

وَأَمَّا الْخِضَابُ بِالْحِنَّاءِ فَمُسْتَحَبٌّ لِلْمَرْأَةِ الْمُزَوَّجَةِ فِي يَدَيْهَا وَرِجْلَيْهَا تَعْمِيمًا لَا تَطْرِيفًا وَيُكْرَهُ لِغَيْرِهَا وَقَدْ أَطْلَقَ الْبَغَوِيّ وَآخَرُونَ اسْتِحْبَابَ الْخِضَابِ لِلْمَرْأَةِ وَمُرَادُهُمْ الْمُزَوَّجَةُ وَأَمَّا الرَّجُلُ فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ الْخِضَابُ إلَّا لِحَاجَةٍ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي نَهْي الرِّجَالِ عَنْ التَّشَبُّهِ بِالنِّسَاءِ


 النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٧١/٣

فَرْعٌ يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُخَضِّبَ يَدَيْهَا إِلَى الْكُوعَيْنِ بِالْحِنَّاءِ قَبْلَ الْإِحْرَامِ، وَتَمْسَحَ وَجْهَهَا أَيْضًا بِشَيْءٍ مِنَ الْحِنَّاءِ لِتَسْتُرَ الْبَشَرَةَ، فَإِنَّهَا تُؤْمَرُ بِكَشْفِهِمَا، وَلَا فَرْقَ فِي اسْتِحْبَابِ الْخِضَابِ لِلْمُحْرِمَةِ بَيْنَ الْمُزَوَّجَةِ وَغَيْرِهَا. وَأَمَّا فِي غَيْرِ الْإِحْرَامِ، فَيُسْتَحَبُّ لِلْمُزَوَّجَةِ الْخِضَابُ، وَيُكْرَهُ لِغَيْرِهَا. وَحَيْثُ اسْتَحْبَبْنَاهُ، فَإِنَّمَا يُسْتَحَبُّ تَعْمِيمُ الْيَدِ دُونَ النَّقْشِ وَالتَّسْوِيدِ وَالتَّطْرِيفِ، وَهُوَ خَضْبُ أَطْرَافِ الْأَصَابِعِ.

Jumat, 01 November 2024

hukum buah buahan yg melebar di pekarangan orang lain

 Ada pertanyaan bagaimana hukum buah buahan yg melebar di pekarangan orang lain 

Masihkah si pemilik buah memiliki hak atas buah yg dipekarangan oranglain?


JAWABAN :


Wa'alaikumussalam. Tetangga dan orang umum tetap tidak boleh memetik buah pohon tersebut kecuali setelah mendapat izin dari pemilik pohon, karena buah-buahan yang menjalar keluar masih menjadi milik pemilik pohon tersebut.


Hukum pohon yang akar atau dahannya menjalar ke pekarangan orang lain : Apabila ada pohon yang akar dan batangnya menjalai kepekarangan tetangga maka akar dan batangnya tetap kepunyaan pemilik pohon. Dan bila dirasa mengganggu maka tetangga harus lapor, dan atas laporan ini pemilik pohon wajib memotongnya, jika pemilik tidak mau maka pemilik pekarangan diperbolehkan memotongnya.


بغية المسترشدين ١٤٢

و لو انتشرت اغصان شجرة او عروقها الى هواء ملك الجار اجبر صاحبها على تحويلها فان لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلا اذنح حاكم كما فى التحفة و ان كانت قديمة بل لو كانت لهما مع الارض ................الى ان قال : و ان منعت الضوء عن الجار


Kalo dalam hukum negara demikian : Orang-orang yang hidup bertetangga tentulah mempunyai hak dan kewajiban masing-masing satu sama lain. Termasuk menyangkut dahan atau pohon yang mentiung / menjorok di pekarangan orang lain. Hal ini diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yaitu tentang hak dan kewajiban antara pemilik-pemilik pekarangan yang satu sama lain bertetanggaan .

·Pasal 666 (2) KUHPerdata : Barangsiapa mengalami bahwa dahan-dahan pohon tetangganya mentiung di atas pekarangannya, berhak menuntut supaya dahan- dahan itu dipotongnya.

·Pasal 666 (3) KUHPerdata : Apabila akar-akar pohon tetangganya tumbuh dalam tanah pekarangannya, maka berhaklah ia memotongnya sendiri; dahan-dahan pun bolehlah ia memotongnya sendiri, jika tetangga setelahsatu kali ditegur, menolak memotongnya, dan asal ia sendiri tidak menginjak pekarangan si tetangga.


Ibarot ini sudah jelas bahwa dahan tersebut milik orang yang punya pohon. Jadi buah yang masih ada di dahan juga nasih milik nya yang punya pohon.


و لو انتشرت اغصان شجرة او عروقها الى هواء ملك الجار اجبر صاحبها على تحويلها فان لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلاذن حاكما

Ini ibarat yang pas banget :

*ني ، ولو وصل غصنه بشجرة غيره كانت ثمرة الغصن لمالكه وإن كان متعديا*


- Hasyiyah Bujairomi :


حاشية البجيرمى على المنهج ج : 3 ص : 8وحاصل المعتمد فى الدكة والشجرة وحفر البئر أن الدكة يمنع منها ولو بفناء داره او دعامة لجداره سواء فى المسجد اوالطريق وان اتسع وانتفى الضرر وأذن الإمام وكانت لعموم المسلمين وان الشجرة فى الطريق كذلك. اهـ

7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI

 7 JENIS NAFSU MENURUT SYEKH NAWAWI AL BANTANI Dalam Kitab Qotrul Ghois Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang d...