Wa'alaikumsalam...
izin menjawab.
*Deskripsi Masalah*
Ada seseorang yg sakit selama 15 hari, dan selama itu pula dia tdk melakukan sholatnya sampai meniggal.
*Pertanyaan*
*1. Apakah masih wajib melakukan sholat selama sakit?*
*Jawaban:*
Diperinci;
•Tetap wajib selama ia masih sadar, dan sholatnya sesuai dengan kemampuannya, jika ia mampu berdiri maka harus berdiri, jika tidak mampu berdiri maka duduk, jika tidak mampu duduk maka dengan tidur miring, jika tidak mampu tidur miring maka dengan tidur telentang, jika tidak mampu menggerakkan badan saat tidur telentang maka cukup dengan isyarat. Namun jika tidak memungkinkan shalat karena terlalu parah, maka boleh mengikuti Madzhab imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa diperbolehkan meinggalkan shalat jika tidak mampu melakukan sholat dengan gerakan kepala (contohnya orang yang stroke)
Hadits:
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ طَهْمَانَ ، قَالَ : حَدَّثَنِي الْحُسَيْنُ الْمُكْتِبُ ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلَاةِ فَقَالَ : ” صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
"Telah menceritakan kepada kami Abdan, dari Abdillah, dari Ibrahim bin Tohman, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Husain Al-Muktib, dari Ibni Burdah, dari Imron bin Husoinin Radhiyallahu Anhu yang saat itu sedang menderita sakit wasir, kemudian ia berkata; Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sholat, Rasulullah Saw, bersabda: ”Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak bisa maka duduklah, dan jika tidak bisa maka shalat dengan berbaring”.
Kitab:
بغية المسترشدين (١٦٢) - فَائِدَةُ: يَجِبُ عَلى المَرِيضِ أَنْ يُؤَدِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ كَمَالِ شُرُوطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَاجْتِنَابَ مُبْطِلاتِهَا حَسْبَ قُدْرَتِهِ وَإِمْكَانِهِ، وَلَهُ الْجُلُوسُ ثُمَّ الاِضْطِجَاعُ ثُمَّ الاسْتِلْقَاءُ وَالْإِيْمَاءُ إِذَا وُجِدَ مَا تُبِيْحُهُ عَلَى مَا قُرِّرَ فِي المَذْهَبِ، فَإِنْ كَثُرَ ضَرَرُهُ وَاشْتَدَّ مَرَضُهُ وَخُشِيَ تَرْكُ الصَّلَاةِ رَأْساً فَلا بَأْسَ بِتَقْلِيدِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ، وَإِنْ فُقِدَتْ بَعْضُ الشَّرُوطِ عِنْدَنَا. وَحَاصِلُ مَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بن خَاتِمِ فِي رِسَالَتِهِ فِي صَلَاةِ الْمَرِيضِ أَنَّ مَذْهَبَ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الْمَرِيْضَ إِذَا عَجَزَ عَنِ الإِيْمَاءِ بِرَأْسِهِ جَازَ لَهُ تَرْكُ الصَّلَاةِ، فَإِنْ شَفَى بَعْدَ مُضِي يَوْمٍ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَإِذَا عَجَزَ عَنِ الشَّرُوطِ بِنَفْسِهِ وَقَدَرَ عَلَيْهَا بِغَيْرِهِ فَظَاهِرُ الْمَذْهَبِ وَهُوَ قَوْلُ الصَّاحِبَيْنِ لُزُوْمُ ذَلِكَ، إِلَّا إِنْ لَحِقَتْهُ مَشَقَّةٌ بِفِعْلِ الْغَيْرِ، أَوْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ تَخْرُجُ مِنْهُ دَائِمًا، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَفْتَرِضُ عَلَيْهِ مُطْلَقًا، لِأَنَّ الْمُكَلَّفَ عِنْدَهُ لَا يُعَدُّ قَادِرًا بِقُدْرَةِ غَيْرِهِ، وَعَلَيْهِ لَوْ تَيَمَّمَ الْعَاجِزُ عَنِ الْوُضُوْءِ بِنَفْسِهِ، أَوْ صَلَّى بِنَجَاسَةٍ أَوْ إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ مَعَ وُجُوْدِ مَنْ يَسْتَعِينُ بِهِ وَلَمْ يَأْمُرْهُ
•Tidak wajib ketika sakitnya berupa hilangnya akal (tidak sadar) contohnya seperti koma, pingsan.
Apabila tidak sadar nya bukan karena suatu hal yang diharamkan (misal mabuk²an) maka ketika ia sudah sadar ia tidak wajib menqodlo' sholat yang ia tinggalkan selama pingsan/koma.
المجموع شرح المهذب (٣/٨) - من زال عقله بسبب غير محرم ، كمن جن أو أغمي عليه أو زال عقله بمرض أو بشرب دواء لحاجة أو أكره على شرب مسكر فزال عقله فلا صلاة عليه ، وإذا أفاق فلا قضاء عليه ، بلا خلاف للحديث ، سواء قل زمن الجنون والإغماء أو كثر
"Barang siapa hilang akalnya karena suatu sebab yang tidak haram, seperti orang gila, pingsan, hilang akal karena penyakit, minum obat karena kebutuhan, atau dipaksa minum minuman keras sehingga hilang akalnya, maka tidak ada kewajiban shalat baginya. Jika dia sadar kembali, maka tidak ada kewajiban untuk mengqadhanya, tanpa ada perbedaan pendapat berdasarkan hadits, baik waktu gila atau pingsannya sedikit maupun banyak. Inilah mazhab kami."
*2. Kalo selama sakit tdk sholat, bagaimana cara mengqodlo'nya?*
*Jawaban:* Jika selama sakit ia masih sadar maka wajib diqodlo' saat sudah sembuh, jika selama sakit ia tidak sadar (koma, pingsan) maka diperinci;
-Jika hilang akal nya karena hal yang diharamkan maka wajib Qodlo'
-Jika hilang akalnya karena selain hal yang diharamkan maka tidak wajib Qodlo'. (Ibarot ikut yang diatas)
*3. apakah boleh di qodlo oleh anak2nya?*
*Jawaban:*
Khilaf. Pendapat masyhur dalam mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa ibadah shalat mayit (orang yang sudah wafat) tidak dapat diqadlai oleh siapa pun, serta tidak dapat digantikan dengan pembayaran fidyah berupa menyedekahkan makanan pokok. Pendapat lain mengatakan bahwa shalat yang ditinggalkan oleh mayit semasa hidup dapat diqadlai.
Dalam qaul qadim Imam As-Syafi’i berpandangan bahwa jika mayit meninggalkan harta warisan (tirkah) maka wajib bagi wali mayit (anak, saudara, dan lain-lain) untuk mengqadlai shalatnya. Sedangkan pendapat terakhir menyebutkan bahwa setiap shalat yang ditinggalkan oleh mayit digantikan dengan pembayaran fidyah (pemberian makanan pokok) kepada fakir miskin sebesar satu mud (0,6 kilogram atau ¾ liter) makanan pokok.
فتح المعين بشرح قرة العين (٢/٢٧٦) - (فائدة) من مات وعليه صلاة، فلا قضاء، ولا فدية. وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه، لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه، ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي - إن خلف تركه - أن يصلي عنه، كالصوم. وفي وجه - عليه كثيرون من أصحابنا - أنه يطعم عن كل صلاة مدا. وقال المحب الطبري: يصل للميت كل عبادة تفعل عنه: واجبة أو مندوبة. وفي شرح المختار لمؤلفه: مذهب أهل السنة أن للانسان أن يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله.
"Faidah. Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki tanggungan shalat, ia tidak wajib mengqadla dan membayar fidyah (atas shalat tersebut). Sedangkan menurut sebagian pendapat—seperti sekelompok mujtahid—shalat tersebut diqadlai, berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari dan lainnya. Pendapat ini juga dipilih oleh para imam mazhab kita (Syafi’i) dan Imam as-Subki melakukan hal ini pada sebagian kerabatnya. Imam Ibnu Burhan menukil dari qaul qadim bahwa wajib bagi wali untuk menshalati atas shalat yang mayit tinggalkan, jika memang mayit meninggalkan harta tirkah (warisan)."
المجموع شرح المهذب (٦/٣٧٢) - {فرع} لو مات وعليه صلاة أو اعتكاف لم يفعلهما عنه وليه ولا يسقط عنه بالفدية صلاة ولا اعتكاف * هذا هو المشهور في المذهب والمعروف من نصوص الشافعي في الام وغيره ونقل البويطي عن الشافعي أنه قال في الاعتكاف يعتكف عنه وليه وفى وراية يطعم عنه قال البغوي ولا يبعد تخريج هذا في الصلاة فيطعم عن كل صلاة مد
"Jika seseorang meninggal dan ia memiliki tanggungan shalat atau i’tikaf yang belum ia lakukan, maka pihak wali mayit tidak dapat melakukan kedua ibadah tersebut atas ganti mayit, dan membayar fidyah pun tidak menggugugurkan tanggungan shalat dan i’tikaf mayit. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i dan pandangan yang terkenal dalam nash Imam as-Syafi’i dalam kitab al-Um dan kitab yang lain.
Imam al-Buwaithi menukil dari Imam as-Syafi’i bahwa beliau berpandangan tentang I’tikaf bisa digantikan oleh pihak wali, sedangkan dalam sebagian riwayat digantikan dengan memberi makanan (fidyah) atas ganti tanggungan i’tikaf mayit. Imam al-Baghawi berkata: ‘Tidak jauh untuk memberlakukan hal ini dalam shalat, maka pihak wali memberi makanan (fidyah) satu mud atas setiap shalat.”
4. Bagaimana cara menghitung fidyahnya? Apakah d hitung selama sakit atau d hitung sholatnya mulai usia baligh?
*Jawaban:*
Di hitung dari sholat yang ia tinggalkan semenjak ia terkena kewajiban sholat (yaitu saat sudah baligh) dan pembayaran sholatnya pun sesuai yang diketahui oleh ahli waris.
Adapun untuk fidyah nya, dibayar dengan cara setiap satu sholat diganti 1 mud (6,7 ons) makanan pokok.
حاشية إعانة الطالبين ( ١ / ٣٣) - (فَائِدَةٌ) مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلَاةُ فَلَا قَضَاءَ وَلَا فِدْيَةَ. وَفِي قَوْلٍ - كَجَمْعِ مُجْتَهِدِينَ - أَنَّهَا تُقْضَى عَنْهُ لِخَبَرِ الْبُخَارِيَّ وَغَيْرِهِ، وَمِنْ ثَمَّ اِخْتَارَهُ جَمْعُ مِنْ أَئِمَّتِنَا ، وَفَعَلَ بِهِ السُّبْكِي عَنْ بَعْضِ أَقَارِبِهِ وَنَقَلَ ابْنُ بُرْهَانٍ عَنِ الْقَدِيمِ أَنَّهُ يَلْزَمُ الْوَلِيَّ إِنْ خَلَفَ تِرْكَةً أَنْ يُصَلَّى عَنْهُ، كَالْصَّوْمِ. وَفِي وَجْهِ - عَلَيْهِ كَثِيرُوْنَ مِنْ أَصْحَابِنَا - أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدًّا.

